Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Insidious: Chapter 3 (2015)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


1
Posted June 1, 2015 by

 
Full Article
 
 

InsidiousChapter3-Poster

Critics Review: ★★★ (5 reviews)
Film Bloggers Review: ★★1/2 (16 reviews)

SYNOPSIS

Bab baru dari serial horor yang menakutkan ini ditulis dan disutradarai oleh co-creator dari franchise ini, Leigh Whannell. Dalam prekuel mengerikan dengan latar waktu sebelum kasus keluarga Lambert ini, sang cenayang berbakat, Elise Rainier (Lin Shaye), dengan enggan menyetujui untuk menggunakan kekuatannya demi menghubungi mereka yang sudah mati agar dapat menolong seorang remaja putri (Stefanie Scott) yang telah diincar oleh sesosok entitas supernatural berbahaya.

 

The new chapter in the terrifying horror series is written and directed by franchise co-creator Leigh Whannell. This chilling prequel, set before the haunting of the Lambert family, reveals how gifted psychic Elise Rainier (Lin Shaye) reluctantly agrees to use her ability to contact the dead in order to help a teenage girl (Stefanie Scott) who has been targeted by a dangerous supernatural entity.

General Information

Director: Leigh Whannell
Scriptwriter: Leigh Whannell
Cast: Dermot Mulroney, Stefanie Scott, Lin Shaye, Angus Sampson, Leigh Whannell, Hayley Kiyoko
Running Time: 97 minutes
Release Date: 2 June 2015

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

ABBAS ADITYA (KapanLagi)

Insidious: Chapter 3 masuk dalam kategori layak konsumsi, terlebih bila kamu sudah menonton film pertama dan kedua. Ibarat makanan, prekuel ini seperti hidangan pembuka yang gurih. Ia menyajikan momen mencekam secara pas dengan segala pernak-pernik yang wajib ada dalam film horor. Siapkan saja nyalimu dan jangan tonton sendirian! Rating: ★★★★

AMIR SYARIF SIREGAR (Flick Magazine)

Insidious: Chapter 3, sayangnya, gagal untuk menunjukkan bahwa seri film ini telah mengalami sebuah perubahan positif yang berarti. Daripada berusaha untuk menyajikan sebuah jalan cerita yang kuat dengan sentuhan beberapa adegan horor yang menegangkan, Whannell justru menjebak Insidious: Chapter 3 untuk menjadi sebuah horor murahan yang murni hanya bergantung pada beberapa adegan menegangkan berkualitas kacangan untuk dapat memberikan hiburan bagi penontonnya. Tidak lebih. Cukup menyedihkan, khususnya jika mengingat bahwa Insidious adalah salah satu film horor buatan Hollywood yang mampu mencuri perhatian dengan fokus yang kuat pada karakter dan jalan ceritanya. Rating: ★★1/2

RATNA DEWI (JalanTikus.com)

Penggambaran dan set-up horror-nya yang kali ini benar-benar terasa mencekam. Efek seram, make-up, dan CGI yang digunakan terasa lebih realistis dan gritty! Really loved it so much. Apalagi ketika di akhir-akhir film sang penulis dan sutradara Leigh Whannell menyelipkan beberapa adegan komedi, sungguh saya sangat bersyukur bisa sedikit bernafas dari kejaran-kejaran reaksi seram dan kaget-kagetan di sepanjang ¾ film sejak dimulai. Rating: ★★★★

REINO EZRA ANRETI (Muvila)

Sebagai sebuah film—bukan wahana, Chapter 3 tidak meninggalkan kesan lebih dan mendalam. Film ini hanya jadi suatu produk yang pandai menakut-nakuti, tetapi keteteran dalam bercerita, alih-alih memberikan kesegaran dan jejak berarti. Tidak salah, tetapi cenderung main aman saja, tanpa inovasi dan nilai yang mampu membuatnya jadi memorable. Rating: ★★

WAYAN DIANANTO (Tabloid Bintang)

NA. Rating: ★★★

 

BLOGGERS REVIEW

ATIKAH HANIFATI (Anak Film)

Insidious: Chapter 3 terasa seperti film yang dipaksakan untuk hadir dan berusaha mengekor kesuksesan dua film sebelumnya. Alih-alih dapat menyejajarkan kualitasnya dengan dua film sebelumnya, dia justru mengalami degradasi kualitas yang membuat kehadirannya sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Tidak ada memorable scene yang membuatnya menjadi tontonan film horror yang superior, tapi jika anda mencari efek-efek kaget karena melihat penampakan yang disertai music scoring yang memang mengagetkan, Insidious: Chapter 3 memberikan sensasi itu. Rating: ★★★1/2

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

‘Insidious: Chapter 3’ bukanlah sepenuhnya sebuah usaha yang gagal. More strict horror audience yang mencari horor-horor lebih inovatif dengan kekuatan atmosfer melebihi jualan klise jump scares ataupun kedalaman plot, boleh jadi akan kecewa. Namun jika tetek bengek seperti ini tak jadi masalah, apalagi bagi pemirsa yang memang sangat menikmati jump scares sebagai alasan buat menyaksikan sebuah film horor di layar lebar, sama seperti memasuki wahana rumah hantu dengan segala excitements-nya, dengan hearts and action booster-nya, ia justru menawarkan paket komplit sebagai hiburan. Rating: ★★★1/2

DIAKSA ADHISTRA (Mokino)

Even I’m still love the first chapter, sekuel ini masih menampilkan atmosfer horor yang seru dan mencekam. Rating: ★★★

DYSAN ISMI AUFAR (Movie Madness)

Sangat terasa kalau Om Leigh masih perlu banyak berbenah untuk soal skill directing, karena tampak kalau cerita pada Insidious 3 ini tak lebih baik dari dua film Insidious sebelumnya dan bahkan dari segi ceritanya sendiri seperti kehilangan kompleksitas seolah sudah kehabisan ide. Dan di samping beberapa jumpscares yang inovatif, banyak juga adegan kejut yang repetitif dan sudah terkesan biasa, pun terlihat asal selip saja yang penting kaget. Tidak ada pendalaman karakter yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk memunculkan horor secara psychological (namun tertolong berkat baiknya penampilan para aktor), bahkan background makhluk peneror di film ini pun dirasa tak tersampaikan dengan baik. Rating: ★★3/4

ELBERT REYNER (A Cinephile’s Diary)

Shallow, laughable, and relies heavily on lazy jump scares, Insidious: Chapter 3 is bad enough to bring shame to the well-known franchise. Rating: ★

HARIS FADLI PASARIBU (Tales from Motion Sickness)

‘Insidious: Chapter 3’ is mildy entertaining, barely scary, and borderline silly. Oh well, at least it’s not a snore-fest. Rating: ★★1/2

HARY SUSANTO (Movienthusiast)

Tanpa James Wan, Insidious: Chapter 3 terperosok dalam ke kubangan horor medioker dengan parade jump scare murahan. Sangat disayangkan, padahal jika Leigh Whannell mau memaksimalkan premis prekuelnya dengan semangat yang sama, ia sebenarnya bisa menutup franchise ini dengan sempurna. Rating: ★★1/2

INDANAVETTA PUTRI (Layar Tancep)

Alih-ailh berfokus pada sosok “Lipstick-Face Demon” yang mengerikan di installment sebelumnya, Whannell memilih untuk merentangkan kisah Insidious ke masa lalu, kepada tokoh Elise. Keputusan ini bisa jadi pisau bermata dua. Di satu sisi, cerita bisa jadi lebih luas berkembang. Tapi di sisi lain, penonton mungkin tidak familiar dengan kehadiran tokoh-tokoh baru, walau ada beberapa tokoh yang muncul di setiap filmnya. Seperti di film pertamanya, Whannell kembali menggunakan tokoh protagonis yang lemah dan tak berdaya. Sayangnya lagi, dari segi akting, kedua tokoh protagonis ini pun tidak membantu. Penonton tidak dibuat bersimpati dengan kondisi Quinn atau Sean. Rating: ★★

LUTHFI PRASETYA PUTRA (Review Luthfi)

Insidious Chapter 3 adalah sebuah penurunan kualitas. Meski digarap oleh Leigh Whannell yang merupakan orang lama franchise ini, film ini tampak kehilangan kualitasnya tanpa kehadiran James Wan di kursi sutradara. Kurangnya pembangunan atmosfir yang memadahi mengakibatkan jump scare yang menjadi andalan berlalu begitu saja, tidak mampu membuat ketenangan hati ini terusik. Insidious Chapter 3 tidak seram bahkan lebih seperti guyonan ketika menyampai klimaksnya. Rating: ★★

RANGGA ADITHIA (Raditherapy)

Dibandingkan dua film sebelumnya, “Insidious: Chapter 3” jelas terasa mengalami penurunan kualitas keseraman, tapi setidaknya Leigh masih berikan kita cerita yang benar-benar menarik, termasuk ketika membicarakan soal dunia lain yang kita kenal dengan sebutan The Further. Selain mempertahankan cerita yang menarik, Leigh ternyata tidak meninggalkan momen-momen hangat yang memang sudah jadi ciri khas di “Insidious”, yang membedakannya dari film-film horor lainnya. Rating: ★★★

RASYID HARRY (Movfreak)

Quinn’s story is no more than just a bridge for one jump scare to another that mostly are weaker than its predecessor with forgettable ghost design. Insidious: Chapter 3 is the worst part of the series, but thanks to Elise’s arc and the heartful climax, this one’s still much better than a lot of trashy horrors like “Annabelle”. Rating: ★★★

SHINTA SETIAWAN (Staff)

While it’s definitely cut from the same cloth, Insidious: Chapter 3 feels like a lesser film compared to its predecessors. Although Whannell did try to crank up the horror, there’s just way too many tiring jump scares, and the ghost design is nowhere near memorable as the first two. Added with a weak performance and chemistry between the Brenner family (obviously the Lambert family did a much better job), Insidious: Chapter 3 is pretty much forgettable. Rating: ★★

TAUFIQUR RIZAL (CineTariz)

Dibandingkan dengan duo jilid pendahulu, tingkat keseraman Chapter 3 bisa dibilang menurun secara cukup drastis. Whannell jelas bukan Wan yang sanggup memberi takaran berimbang dalam membangun nuansa mencekam penuh ketidaknyamanan seraya menggeber jump scares tepat guna yang membuat penonton terlonjak dari kursi bioskop. Agar suasana bioskop tetap riuh oleh suara-suara penonton dalam merespon adegan yang terpampang di layar, Whannell bergantung sepenuhnya pada jump scares penggedor jantung (berkualitas rendah) dengan skoring di titik maksimal yang seringkali ditempatkan sekenanya. Rating: ★★★

TEGUH RASPATI (UlasanPilem)

Walaupun memang bukan termasuk film horor yang dengan kadar nyeremin yang tinggi, sedikit banyak Insidious: Chapter 3 berhasil membuat penonton terlonjak dari kursi dengan jump scares-nya yang klise. Meski tak sepiawai Wan, namun Whannell menunjukkan kemampuannya menangani film horor dengan caranya sendiri. Rating: ★★

TIMOTIUS PRASSANTO (Sobekan Tiket Bioskop)

Rasanya sulit untuk melampaui hasil kerja gemilang James Wan pada Chapter 1 dan 2 yang sukses membuat bulu kuduk berdiri. Naskah yang ditulis oleh Whanell sendiri memang potensial, namun sayang eksekusi dalam layar yang terbilang agak menurun dari sekuel sebelumnya. Di luar tingkat keseramannya yang kurang, Leigh Whanell cukup sukses dalam menambahkan unsur drama yang menjadikan film ini lebih emosional. Rating: ★★★

VINCENT JOSE (The Jose Movie Review)

Yang patut saya apresiasi terutama adalah plotnya yang meski tak sepenuhnya baru atau fresh, namun bisa jadi background story yang masuk akal dan ternyata ditampilkan dengan hearty pula. Okay, mungkin chemistry antara karakter ayah dan anak, Sean dan Quinn tidak ditampilkan sekuat keluarga Lambert di installment-installment sebelumnya. Namun karakter Quinn ditulis dengan detail yang menarik dan bisa menjadi setup cerita horor yang kuat dan relatable. Rating: ★★★1/2

 

Last Updated: 29 June 2015


One Comment


  1.  

    Walaupun tidak seseram dan semerinding yang dibayangkan, film ini masih oke buat ditonton sambil jejeritan sepuasnya bersama teman.

    3/5.





Leave a Response


(required)