Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Air Terjun Bukit Perawan (2016)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 


0
Posted February 1, 2016 by

 
Full Article
 
 

AirTerjunBukitPerawan-Poster

Critics Review: NA (0 review)
Film Bloggers Review: ★3/4 (2 reviews)

SYNOPSIS

Marjuki mengajak enam orang temannya untuk mendatangi desa kekasihnya Tina, yang sudah hampir tiga bulan tidak ada kabar beritanya. Sesampainya di desa tersebut, ternyata Tina tidak ada di rumahnya, maka Marjuki mengajak teman-temannya untuk kemping di Bukit belakang sana.

Saat tenda berdiri, secara mengejutkan Tina datang dan ikut bergabung bersama mereka semua. Ketika tidur, Marjuki bermimpi buruk. Tina kekasihnya ini dibunuh di air terjun dan mayatnya diseret di bebatuan. Dan keesokan paginya, ketika mereka selesai mandi di Air Terjun, Marjuki melihat sebuah batu yang sama dengan yang ada dalam mimpinya, batu tempat Tina diseret.

Marjuki mendatangi dan mengikuti lekak lekuk batu sambil menyamakan dengan yang ada dalam mimpinya. Dan dia begitu terkejut manakala melihat mayat Tina ada di balik batu besar. Kalang kabut Marjuki kembali ke tenda, dan di sana dia melihat Tina sedang masak bersama yang lainnya. Siapa kira-kira Tina yang ada di tenda? Sementara Tina tidak memiliki kembaran. Apakah Tina Hantu? Sementara dia bisa memegang benda dan memasak.

General Information

Director: Luri G. Wara
Scriptwriter: Theresia Hwang, Rudiyant
Cast: Dallas Pratama, Adelia Rasya
Running Time: 89 minutes
Release Date: 28 January 2016

Full Cast and Crew

Not available.

 

BLOGGERS REVIEW

JOSEP ALEXANDER (Postingan Biasa)

Film ini ibarat film dengan embel-embel “Air Terjun” tapi deretan pemainnya hanya tiga yang menjual. Bukan film horor, melainkan film drama teka-teki misteri. Saking misteriusnya hingga kehabisan ide cerita, pengulangan adegan dan dialog yang sama pun terjadi. Anyway, lokasi air terjunnya lumayan menarik. Rating: ★★

RASYID HARRY (Movfreak)

Sutradara dan penulis naskah tidak mampu menarasikan cerita penuh misteri dan lompatan alur. Naskahnya didominasi dialog menggelikan, sehingga tatkala plot masih “merangkak,” tidak tercipta daya tarik. Padahal bagian itu berfungsi membangun kepedulian penonton pada tokohnya. Malah menjelang akhir penulisannya makin parah saat (entah sengaja atau tidak) banyak muncul kalimat menggelikan, contohnya yang melibatkan “angkot.” Bila disengaja, memang lucu, tapi tidak selaras dengan tone. Bila tidak disengaja, bagaimana mungkin adegan serius cenderung kelam bisa menghadirkan tawa? Jajaran aktor juga sama sekali tidak membantu akibat penghantaran datar mereka. Rating: ★1/2

 

Last Updated: 1 February 2016


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response


(required)