Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Battle of Surabaya (2015)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


0
Posted August 18, 2015 by

 
Full Article
 
 

BattleOfSurabaya-Poster

Critics Review: ★★3/4 (6 reviews)
Film Bloggers Review: ★★1/2 (11 reviews)

SYNOPSIS

Setelah pemboman kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Sekutu, Jepang mengakhiri perang melawan Sekutu. Penyerahan Jepang atas Sekutu tersebut ditandatangani di atas Kapal USS Missouri. Indonesia merdeka! Lepas dari penjajahan Jepang. Tetapi langit Surabaya kembali memerah. Peristiwa Insiden Bendera di Hotel Yamato dan kedatangan Sekutu yang ditumpangi Belanda menuntut hak atas Hindia Belanda. Disisi lain juga terjadi gangguan oleh beberapa kelompok pemuda Kipas Hitam, sebuah organisasi paramiliter bentukan Jepang. Residen Sudirman, Gubernur Suryo, Pak Moestopo, Bung Tomo dan tokoh-tokoh lain membangkitkan semangat arek-arek Suroboyo dan pemuda Indonesia untuk memilih bangkit melawan penjajahan.

Cerita Battle of Surabaya merupakan cerita adaptasi dari peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Musa, seorang remaja penyemir sepatu yang kemudian membawa misi sebagai kurir surat-surat rahasia untuk para tentara dan milisi pejuang Indonesia. Selain surat rahasia Musa juga mengantar surat-surat pribadi para pejuang untuk keluarganya. Bersama sahabatnya Yumna (Maudy Ayunda) dan Danu (Reza Rahadian), Musa mengalami petualangan hebat hingga banyak kehilangan orang-orang yang dicintainya. Bagaimana petualangan Musa menyelesaikan misi-misinya diantara ancaman para musuh dan perang yang terjadi waktu itu, saksikan di Bioskop mulai tanggal 20 Agustus 2015!

General Information

Director: Aryanto Yuniawan
Scriptwriter: Aryanto Yuniawan, M. Suyanto
Cast: Reza Rahadian, Maudy Ayunda, Ian Saybani
Running Time: 99 minutes
Release Date: 20 August 2015

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

ABBAS ADITYA (KapanLagi)

Penceritaan melebar ke mana-mana sehingga karakter utama tidak bisa perform dengan baik. Skripnya sibuk sendiri memunculkan banyak tokoh sejarah demi membuat film ini lebih kaya, in a bad way. Mirisnya, ini juga sama-sama tidak dijabarkan dengan baik seperti tokoh utama tadi. Rating: ★★

ANDRI CAHYADI (Cinemags)

NA. Rating: ★★★1/2

BOBBY BATARA (All Film Magazine)

NA. Rating: ★★1/2

RANGGA ADITHIA (Flick Magazine)

Battle of Surabaya memang tidak sempurna, untungnya kekurangannya dalam storytelling tertutupi oleh usaha yang lebih baik dari sisi animasinya. Setidaknya dalam urusan gambar, film ini membuktikan kita juga bisa membuat film animasi yang mumpuni. Gambar-gambar menakjubkan yang ditampilkan oleh Battle of Surabaya jelas tidak bisa dianggap remeh, apalagi selain digambar dengan baik, hasil akhirnya makin berkilau ketika didukung oleh scoring, dan pemilihan suara dari pemain yang tepat untuk karakter-karakternya. Rating: ★★★1/2

SHANDY GASELLA (Detik)

Aryanto Yuniawan paling bertanggung jawab membawa proyek film animasi yang sangat ambisius ini pada akhirnya jadi melempem. Ia tak melibatkan penulis naskah handal yang sudah lama berkecimpung di industri film tanah air untuk membantu menulis skenario film ini, untuk urusan editing pun ia menyerahkannya kepada debutan Ivan Drummond. Hasilnya, bukannya angin segar yang diembuskan film ini, melainkan angin lalu yang kembali bertiup sambil menebar aroma tak sedap ke udara yang saya sudah hapal betul baunya. Rating: ★★

WAYAN DIANANTO (Tabloid Bintang)

NA. Rating: ★★★

 

BLOGGERS REVIEW

AMIR SYARIF SIREGAR (Amir at the Movies)

Battle of Surabaya has a seriously adorable georgeous look but the storyline is too damn messy to be enjoyed. Rating: ★★1/2

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

Meski sedikit kehilangan ciri, kita tetap bisa melihat usaha yang cukup solid dalam tatanan animasi yang ditampilkan, bahkan mungkin sedikit melebihi beberapa animasi layar lebar yang sudah-sudah tadi, dan tata teknis pengiringnya, terutama scoring dari Brama Shandy, M.L. Chandra dan Meka Tri berikut lagu-lagu soundtrack pengiringnya juga cukup baik. An admirable effort that still need a lot of improvements, namun sebagai penggerak awal penyambung nafas karya-karya sinema animasi kita, ini sudah lebih dari sekedar cukup. Sebaiknya talenta-talentanya tak lantas berhenti sampai disini saja. Rating: ★★★

DJAY (So-Called Reviewer)

Terlepas dari cerita dan plot yang berantakan banget, salut buat Battle of Surabaya yang visualnya bagus banget. Mau Ghibli-style or whatever, Battle of Surabaya sudah bisa membuktikan bahwa animasi Indonesia is right on track. Endingnya sih Les Misrables banget. Cuma okelah. Anyway, gue udah sering berpikir kapan Indonesia punya film side story dari sebuah sejarah. Battle of Surabaya menawarkan itu. Buat yang pengen nonton, please jangan ngarepin cerita yang wow. Nikmati aja visualnya. Rating: ★★★1/2

ELBERT REYNER (A Cinephile’s Diary)

Battle of Surabaya memiliki satu keunggulan yang memang pantas diacungi dua jempol: teknisnya. Mulai dari kualitas animasi, desain karakter (yang merupakan perpaduan antara aliran gambar Jepang dan Indonesia; mengingat pengaruh komik Jepang memang sudah sangat kuat terhadap gaya gambar orang Indonesia sejak Gramedia menerbitkannya pertama kali di sini), coloring, CGI, sampai tata suara Dolby 7.1, semua digarap dengan hasil yang sangat exceptional dan patut untuk dijadikan sebagai standar industri animasi Indonesia ke depannya. Tetapi tentu saja, kualitas teknis yang juara itu tetap tidak bisa menutup-nutupi keburukan naskahnya dan kurangnya riset yang mendalam. Rating: ★★

JOSEP ALEXANDER (Postingan Biasa)

NA. Rating: ★★1/2

ODAGOMA RHEINHARD (Layar Tancep)

Sebagai sebuah debut, Battle of Surabaya adalah langkah awal yang patut diapresiasi untuk dunia animasi 2D Indonesia. Battle of Surabaya, seperti kebanyakan animasi Indonesia lainnya, masih lemah dalam bercerita. Beruntung, komedi di dalamnya cukup mampu mencairkan suasana. Dan kita patut memberi jempol untuk para animatornya. Walau penggambaran karakternya terkadang kurang konsisten, tapi Battle of Surabaya punya latar yang sungguh mempesona. Rating: ★★1/2

RASYID HARRY (Movfreak)

Jika ada orang yang menyebut Battle of Surabaya sebagai sajian yang penting bagi perfilman Indonesia silahkan saja. Tapi saya pribadi menolak keras menyebut suatu film menjadi “penting” atau membawa angin segar hanya karena mengusung genre yang jarang diangkat. Layak disebut penting saat sebuah film berhasil memiliki aspek yang selama ini menjadi kekurangan terbesar dunia perfilman kita. Aspek itu adalah naskah kuat, yang notabene adalah kelemahan terbesar film ini. Rating: ★1/2

REINO EZRA ANRETI (Ajirenji Mindstream Reviews)

Biarpun penuturannya agak bikin keliyengan, gambar bagus dan beberapa bagian yang menghibur *termasuk bagian awkward-awkward-an ABG-nya =p* berhasil membuat gw tetap betah untuk mengikuti film ini hingga akhir. Yah, untuk “yang pertama”, film ini nggak ancur banget, layak dijadikan threshold buat film-film sejenis selanjutnya. Maksudnya, kalau film-film animasi Indonesia sesudah ini kualitasnya di bawah film ini, ya bakal sulit untuk dimaafkan. Rating: ★★★

TAUFIQUR RIZAL (CineTariz)

Meski penceritaannya menggelikan, Battle of Surabaya masih menjadi sajian yang menghibur berkat humor dan animasinya yang tergarap cantik. Rating: ★★1/2

TEGUH SANTOSO (Reviewsiana)

Animasi bagus yang tersia-siakan oleh alur cerita yang buruk. Battle of Surabaya juga punya masalah pada karakterisasi. Banyak karakter bermunculan tanpa kita merasa mereka penting. Walau begitu Battle of Surabaya masih punya sisipan joke yang menyegarkan. Dan jempol atas kekreatifan memasukan fiksi dalam sejarah untuk lebih menghidupkan cerita. Rating: ★★

VINCENT JOSE (The Jose Movie Review)

Sama dengan film Indonesia kebanyakan yang mengangkat unsur sejarah, Battle of Surabaya juga temasuk yang belum berhasil melakukannya dengan baik. Kalau boleh jujur, dari segi struktur dan alur cerita, malah seperti garapan tugas akhir mahasiswa DKV atau IT kebanyakan. Banyak pula adegan yang sebenarnya bisa diringkas sesuai tujuannya untuk menyelamatkan pace. Justru pace untuk momen-momen yang potensial mengundang emosi penonton yang dibuat terlalu cepat sehingga gagal mengundang simpati apa-apa dari penonton. Belum lagi banyak dialog yang hubungan antar kalimatnya bikin jidad berkerut. Rating: ★★★

 

Last Updated: 22 September 2015


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response


(required)