Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Bidadari Terakhir (2015)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


0
Posted September 8, 2015 by

 
Full Article
 
 

BidadariTerakhir-Poster

Critics Review: ★★★ (5 reviews)
Film Bloggers Review: ★★3/4 (6 reviews)

SYNOPSIS

“Rencanakanlah semua, dan masa depanmu akan cemerlang.” Itulah yang diyakini Rasya. Karena itulah ia terus belajar dan belajar, demi mengikuti jalan yang dipaparkan ayahnya, Tama, seorang pejabat PNS berkarir cemerlang. Kegiatan apa pun yang di luar rencana besarnya itu tak jadi prioritas, dan karena itu jugalah ia terus menghindari pendekatan Maria seorang adik kelas yang suka padanya.

Hingga suatu hari Hendra, teman Rasya, menggeretnya ke sebuah tempat pelacuran untuk refreshing. Di sanalah, dalam sendiri menunggu Hendra selesai, ia bertemu dengan Eva, salah satu pelacur di sana. Pribadi Eva yang blak-blakan dan selalu “hidup untuk hari ini” membangkitkan ketetarikkan Rasya. Saking tertariknya, pada hari-hari berikutnya Rasya sengaja berkunjung hanya demi bercakap-cakap dengan Eva.

Seusai kelulusan SMU, Rasya meninggalkan semua rencananya. Ia ingin, paling tidak untuk sementara, hidup untuk hari ini. Ia akan berkelana, terus memperluas cakrawalanya, dan berusaha menemukan jalan untuk dirinya sendiri.

General Information

Director: Awi Suryadi
Scriptwriter: Priesnanda Dwisatria, Fauzan Adisuko, Agnes Davonar
Cast: Maxime Bouttier, Whulandary Herman, Stella Cornelia
Running Time: 106 minutes
Release Date: 10 September 2015

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

ABBAS ADITYA (KapanLagi)

NA. Rating: ★★★1/2

ANDRI CAHYADI (Cinemags)

NA. Rating: ★★★

BOBBY BATARA (All Film Magazine)

NA. Rating: ★★★

REINO EZRA ANRETI (Muvila)

Salah satu roman melankolis yang asyik dan make sense. Rating: ★★★

WAYAN DIANANTO (Tabloid Bintang)

NA. Rating: ★★1/2

 

BLOGGERS REVIEW

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

Usaha Awi membesut adaptasi dari source yang banyak dari kita tahu sulit untuk bisa kemana-mana dengan inevitably cliche turns, memang patut dihargai lebih. Ini memang membuat Bidadari Terakhir terlihat sedikit berbeda dibalik stereotip-stereotip biasa di atas tema-tema sejenis, dan jangan lupa, ada debutante performance yang bagus dari Whulandary, sementara Maxime juga sedikit naik kelas dari peran-perannya yang biasa. Tak spesial, tapi bolehlah. Rating: ★★★

DJAY (So-Called Reviewer)

I am sorry but Bidadari Terakhir is not a fine movie. Predictable story and snooze fest. Whulandary tidak membantu banyak. Rating: ★1/2

HARY SUSANTO (Movienthusiast)

Dari luar Bidadari Terakhir seperti terkesan berani dengan premisnya yang provokatif, tetapi sebenarnya ia tidak lebih baik dari kebanyakan drama picisan yang memasang penyakit sebagai konfliknya. Jika kamu kebetulan warga Balikpapan, terlepas dari carut marut penceritaannya, ia masih memberikan nilai sentimentil tersendiri berkat berkat pemilihan lokasi yang familiar. Rating: ★★1/2

ODAGOMA RHEINHARD (Layar Tancep)

Di luar dugaan, Bidadari Terakhir berhasil tampil dengan cantik dan memikat hati sebagai drama dengan padu padan yang mengesankan. Menit-menitnya yang mengalir dari menggoda, manis, haru, hingga optimis berhasil dituturkan dengan lancar oleh Awi Suryadi. Dan semua itu dterjemahkan dengan cukup baik oleh dua pemeran utamanya, terutama Whulandary yang mengawali debutnya dengan cukup menarik hati. Rating: ★★★

RASYID HARRY (Movfreak)

Di luar segala kekurangannya, saya menyukai Bidadari Terakhir yang punya kisah romansa manis dan cukup berani mengangkat tema kontroversial meski masih berada di zona aman. Kemudian hadirlah rangkaian momen menuju konklusi yang hampir saja menghancurkan film ini. Munculnya aspek “penyakit” yang selalu jadi andalan untuk menghadirkan kesedihan jujur saja menurunkan kelas Bidadari Terakhir yang sedari awal tampil elegan. Untung Awi Suryadi tampak menyadari itu dan tidak ingin membuat filmnya sebagai tearjerker seutuhnya. Maka dia pun tidak membuat penonton berlama-lama pada momen tersebut, dan langsung bergerak ke poin selanjutnya yang terasa lebih positif dan bagi saya sempurna sebagai penutup. Rating: ★★★

VINCENT JOSE (The Jose Movie Review)

Bidadari Terakhir memang tipikal tearjerker klise, sesuai dengan materi aslinya. Tapi dengan naskah, penyutradaraan, dukungan cast, dan teknis lainnya, setidaknya sudah jadi karya yang jauh lebih baik dan bertutur dengan elegan, apalagi jika dibandingkan film-film yang diangkat dari novel Agnes Davonar lainnya. Rating: ★★★1/2

 

Last Updated: 22 September 2015


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response


(required)