Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Bulan di Atas Kuburan (2015)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


1
Posted April 6, 2015 by

 
Full Article
 
 

BulanDiAtasKuburan-Poster

Critics Review: ★★★1/2 (5 reviews)
Film Bloggers Review: ★★★ (8 reviews)

SYNOPSIS

Diadaptasi dari film karya Asrul Sani Bulan di Atas Kuburan tahun 1973 yang terinspirasi oleh sajak karya Sitor Situmorang yang berjudul Malam Lebaran. Bercerita tentang 3 sahabat Tigor (Donny Alamsyah), Sahat (Rio Dewanto), dan Sabar (Tio Pakusadewo) yang meninggalkan kampung halaman mereka di Samosir Sumatera Utara. Mereka merantau berharap bisa meraih impiannya. Sesampainya di Jakarta mereka terpisah dan menempuh hidup masing-masing. Bertemu dengan Mona (Atiqah Hasiholan) yang membuat kehidupan Sahat di Jakarta menjadi berubah dan lebih rumit. Jakarta bukan hanya merebut persahabatan mereka, tapi juga kemanusiaannya.

 

Adapted from Bulan di Atas Kuburan, a film by Asrul Sani from the year 1973, inspired from Sitor Situmorang’s poem titled Malam Lebaran. Bulan di Atas Kuburan tells the story of three best friends, Tigor (Donny Alamsyah), Sahat (Rio Dewanto), and Sabar (Tio Pakusadewo) that left their hometown in Samosir, North Sumatera. They hoped to move to the city to achieve their dreams. When they arrived in Jakarta, the three friends split and live their lives separately. Sahat’s life changes and becomes more complicated when he met Mona (Atiqah Hasiholan). Moving to Jakarta does not only change their friendship, but also affects their humanity.

General Information

Director: Edo WF Sitanggang
Scriptwriter: Dirmawan Hatta
Cast: Rio Dewanto, Atiqah Hasiholan, Tio Pakusadewo, Donny Alamsyah
Running Time: NA
Release Date: 16 April 2015

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

ABBAS ADITYA (KapanLagi)

NA. Rating: ★★★

AMIR SYARIF SIREGAR (Flick Magazine)

Sayangnya, dengan konten yang terlalu padat, jalan cerita Bulan di Atas Kuburan gagal dipresentasikan dengan ritme penceritaan yang tepat. Selain kadang terasa terlalu lamban berjalan akibat dibebani terlalu banyak detil cerita yang sebenarnya kurang begitu diperlukan, Bulan di Atas Kuburan juga hadir dengan linimasa penceritaan yang terlalu acak. Dengan banyaknya konflik dan karakter, sulit untuk mengikuti perkembangan sudut pandang dari satu karakter ketika film ini memutuskan untuk meleburkan keseluruhan elemen ceritanya pada satu titik daripada berusaha menyajikannya dengan ritme penceritaan yang lebih beraturan. Rating: ★★★

BOBBY BATARA (All Film Magazine)

Masalah yang dituturkan di sana tetap relevan. Humor verbalnya terasa nikmat, kental dengan black comedy yang bertebaran, sambil mengajak bertamasya melihat ragam masalah mereka yang berjuang untuk naik kelas sosial. Para pelakon utamanya macam Rio Dewanto dan Donny Alamsyah juga menyuguhkan penampilan yang elok untuk ditengok. Sayangnya Edo tidak cukup cerdik dalam menerjemahkan kisah itu. Dia tampak tertatih-tatih dalam mengatur ritme permainan dengan dialog yang terlalu panjang dan cerewet. (taken from print edition #65) Rating: ★★★1/2

REINO EZRA ANRETI (Muvila)

Jangan bayangkan Bulan di Atas Kuburan adalah sebuah film yang “nyeni” dengan banyak simbol. Memang ada kecenderungan ke sana, tapi pada akhirnya film ini tetap sebuah sajian yang masih mudah dicerna lewat tata adegan dan dialog yang dekat dengan keseharian, dan di saat bersamaan mampu menyampaikan gagasan utamanya tanpa mengumbar kelewat lugas. Jika niatnya adalah untuk menyegarkan kembali gambaran dan gagasan tentang kejamnya ibukota, Bulan di Atas Kuburan versi baru ini sudah berhasil dengan caranya sendiri. Rating: ★★★★

SHANDY GASELLA (Detik)

Edo W.F. Sitanggang mengeksekusi naskah film yang ciamik ini dengan tingkat craftsmanship yang tak main-main untuk ukuran seorang sutradara debutan. Edo mengemas film ini dengan cara-cara yang bahkan bagi kebanyakan sutradara “senior” tak kunjung dikuasai betul. Pengadeganan, sinematografi, mood film, editing, musik, hingga pagelaran akting dari deretan pemain lakon amat baik saling melengkapi membuat film ini jadi tontonan yang mewah. Rating: ★★★★1/2

 

BLOGGERS REVIEW

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

More than just a remake, tapi lebih berupa sebuah rendition yang digagas dengan respek tinggi ke penerjemahan Asrul Sani terhadap source-nya, sajak satu larik Sitor Situmorang yang bukan main uniknya, ‘Bulan di Atas Kuburan’ adalah sebuah pencapaian sangat mengagumkan yang jarang-jarang kita dapatkan dari sebuah reka ulang. Not only brought us revisit one of our strongest culture, but also harsh mocks to our society. Rating: ★★★★

DJAY (So-Called Reviewer)

Tema film ini sangat usang, sangat biasa, bahkan sangat dasar. Sutradara manapun dapat mengeksekusi tema ini dan membuat film ini menjadi bagus. Tapi di tangan kru-kru ini, Bulan di Atas Kuburan bukan hanya bagus, namun jauh lebih dari itu. Pondasi cerita yang kuat ditambah departemen akting yang jempolan adalah nilai lebih film ini. Rating: ★★★1/2

ERLITA PUTRANTI (It Caught My Eyes)

Bulan di Atas Kuburan was okay. Not as compelling as it aim to be, but it still was angsty enough. It’s a sad story about losing yourself in the big city and what you’ve got to pay for, basically. But there’s not enough room for character introduction and for all the on screen beauty, it’s hollow. Love the scoring and the soundtrack, though. And it put Samosir on my bucket list. Aside from that, unfortunately, nothing special. Rating: ★★★

HARIS FADLI PASARIBU (Tales from Motion Sickness)

Sometimes good intention ain’t enough. ‘Bulan Di Atas Kuburan’ tries to tell many thing but feels so scattered it’s all over the place, hence there’s no solid and firm plot or characterization. Tad overlong and rather boring. Still, kudos to the excellent cinematography. Rating: ★★1/2

INDANAVETTA PUTRI (Layar Tancep)

Terlepas dari segala kekurangan yang ada, Bulan Di Atas Kuburan tetap menjadi sebuah film Indonesia yang sebaiknya ditonton, apalagi bagi generasi sekarang yang tidak tahu menahu mengenai film aslinya. Rating: ★★★

JOSEP ALEXANDER (Postingan Biasa)

NA. Rating: ★★1/2

TAUFIQUR RIZAL (CineTariz)

Bulan di Atas Kuburan tergelar sebagai sebuah kritik sosial yang menohok, mencengkram kuat, sekaligus menyentuh. Bagus! Rating: ★★★1/2

VINCENT JOSE (The Jose Movie Review)

Dirmawan membekali BdAK dengan dialog-dialog yang renyah dan cerdas. Gaya penceritaan Edo pun sejak awal sudah menarik, apalagi nuansanya tidak dibawa begitu serius, pun juga penonton ditemani pemandangan alam dan musik khas Batak yang begitu eksotis. Namun begitu memasuki Jakarta, penceritaan pun menjadi semakin serius. Ada sesekali humor-humor yang diceletukkan karakter-karakternya, tapi nuansanya jelas berubah menjadi sangat serius, dengan dialog-dialog yang semakin tajam. Sayangnya, 3 karakter utama; Sahat, Tigor, dan Sabar, diceritakan secara terpisah, namun dengan porsi yang saling tumpang tindih. Alhasil tidak ada satu pun yang terasa lebih kuat maupun lebih penting dibanding yang lain. Rating: ★★★1/2

 

Last Updated: 3 June 2015


One Comment


  1.  
    P. Mahpudin

    FIlm ini oke banget, gue kagak usah banyak mikir di film ini, lugas dan padat. Sinematografinya lumayan enak, ditambah bumbu khas kota Jakarta yang renyah, kerinduan film-film alaTeguh Karya (natural, kaya budaya dan lugas)”, setidaknya terobati dengan kehadiran film ini. Rating: ****





Leave a Response


(required)