Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Di Balik 98 (2015)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 

Positives


Tata produksi dan desain yang apik, keseriusan penggarapan kisah berlatar sejarah.

Negatives


Terlalu banyak percabangan cerita.


0
Posted January 7, 2015 by

 
Full Article
 
 

DiBalik98-Poster

Critics Rating: ★★★ (4 reviews)
Film Bloggers Rating: ★★3/4 (7 reviews)

SYNOPSIS

Kisah perjuangan keluarga dan pengorbanan cinta melewati tragedi Mei 1998.

Letnan Dua Bagus bimbang ketika harus berhadapan dengan situasi luar biasa itu. Tanggung jawab sebagai petugas pengamanan harus berbenturan dengan kewajiban untuk menjaga istrinya, Salma, pegawai Istana negara, yang sedang hamil besar. Salma terjebak dalam kerusuhan dan dinyatakan hilang. Tekanan dari atasan: Bagus harus mengutamakan tugas dan sebagai laki-laki pantang untuk menjadi cengeng hanya karena peristiwa kecil.

Kerusuhan memaksa Presiden Soeharto pulang dari Kairo lebih awal. Pemerintah dihadapkan pada situasi yang sulit. Tokoh masyarakat dan beberapa perwakilan Ormas secara langsung meminta Presiden Soeharto mundur. Namun ia bergeming dan berencana membentuk komite dan kabinet reformasi untuk menjawab tuntutan tersebut.

Sementara itu, nasib baik enggan untuk berpihak kepada Bagus. Diana, adik iparnya, aktivis reformasi, harus berbenturan pendapat dengan kakaknya ketika mengetahui Salma kakaknya hilang di tengah peristiwa kerusuhan. Diana menuduh Bagus tidak bisa menjaga Salma. Keadaan semakin pelik ketika Daniel, pacar Diana, keturunan Tionghoa yang juga ikut berjuang menuntut perubahan, harus kehilangan ayah dan adiknya dalam kerusuhan. Bahkan Daniel hampir terjebak sweeping warga yang menyaring orang-orang Non Pribumi, yang saat itu menjadi puncak issue rasial di Indonesia. Untungnya Daniel selamat dan menemukan keluarganya lalu ikut exodus meninggalkan Indonesia.

Presiden Soeharto membentuk komite dan kabinet reformasi yanag tidak mendapat tanggapan positif. Bahkan ketua MPR Harmoko meminta Presiden untuk mengundurkan diri. Selain itu ada 14 menteri menolak tergabung dalam kabinet reformasi.

Salma terselamatkan dan dibawa ke sebuah rumah sakit. Di saat detik kelahiran anak pertamanya, Bagus dan Diana menemukan Salma. Bayi yang mereka nantikan dilahirkan.

17 Tahun berlalu. Daniel kembali ke Jakarta dengan membawa abu kremasi ayahnya. Ayahnya ingin beristirahat untuk selama-lamanya di tanah kelahirannya itu. Daniel menemukan Diana. Keduanya masih memiliki semangat yang sama untuk melanjutkan semangat reformasi.

 

The story of family’s struggles and sacrifices of love through May tragedy 1998.

Second Lieutenant Bagus is indecisive facing with extraordinary circumstances. Responsibilities as security officer collide with the obligation to care his wife, Salma, the state palace staff, who are pregnant. Salma is trapped in riots and declared missing. Pressure from superiors: Bagus must prioritize his tasks and as a man not to be a crybaby only because of small events.

Unrest forces President Suharto comes home from Cairo earlier. Governments are faced with a difficult situation. Community leaders and some representatives of mass organizations directly ask the president Soeharto to resign. But he unmoves and plans to form a committee and cabinet reforms to address these demands.

Meanwhile, good luck reluctant to side with Bagus. Diana, his sister-in-law and reform activist student, must quarrel with his brother when she knew Salma lost in the middle of the riots. Diana accuses Bagus could not keep Salma. Things are complicated when Daniel, Diana’s boyfriend of Chinese descent who also fights for reform, loses his father and brother in the riots. Even Daniel is almost trapped by non-indigenous sweeping, who is a racial issue peak in Indonesia. Fortunately Daniel survives and finds his family and joins the exodus to leave Indonesia.

President Suharto form a committee and cabinet reform which does not get a positive response. Even the chairman of the Assembly, Harmoko, asks the prudent to resign. In addition, there are 14 members of the cabinet ministers reject the reform cabinet.

Salma is rescued and taken to a hospital. At the time of the birth of her first child, Bagus and Diana find Salma. Their awaiting baby is born.

17 years pass. Daniel returns to Jakarta to bring his father’s cremated remains. His father wants to rest in the land of his birth. Daniel finds Diana. They still have the same passion to continue the spirit of reform.

 

General Information

Director: Lukman Sardi
Scriptwriter: Samsul Hadi, Ifan Ismail
Cast: Chelsea Islan, Boy William, Donny Alamsyah, Ririn Ekawati
Running Time: 106 minutes
Release Date: 15 January 2015

Full Cast and Crew

CAST

Chelsea Islan (Diana)
Boy William (Daniel)
Donny Alamsyah (Bagus)
Ririn Ekawati (Salma)
Teuku Rifnu Wikana (Rachmat)
Bima Azriel (Gandung)
Verdi Solaiman (Karumga)
Alya Rohali (Mbak Dayu)
Fauzi Baadilla (Rahman)
Agus Kuncoro (BJ Habibie)
Amoroso Katamsi (Presiden Soeharto)

CREW

Departemen Produksi

Affandi Abdul Rachman (Produser)
Rista Ferina (Co-Producer)
Muhammad Ramdani (Line Producer)
Samsul Hadi (Penata skrip)
Ifan Ismail (Penata skrip)
Lani Londa (Line Producer)
Ario P Nugroho (Manajer Produksi)
Suma Adiwinata (Koordinator Produksi)
Sara Kessing (Asisten Produksi)
Ineke Bajalaras (Asisten Produksi)
Intan Rezki (Asisten Produksi)
Yani Djoha (Manajer Unit)
Agus KSK (Manajer Lokasi)
Lukman Sardi (Sutradara)
Azhar Lubis (Co-Director)
Tommy (Asisten sutradara)
Felaroze (Asisten sutradara)
Metta Cicillia Larasti … (Asisten sutradara 2)
Harold Jonathan (Asisten sutradara 2)
Aisha Balinda (Asisten sutradara 3)
Hendra Rakhmat (Asisten sutradara 3)
Shakti Harimurti (Casting Director)
Bakti Adhitama (Casting Director)
Andi Manoppo (Pimpinan Pasca Produksi)

Departemen Kamera

Yadi Sugandi (Penata Kamera)
Muhammad Firdaus (Penata Kamera)
Maliki Zukarnain (Operator kamera)
Dodon Ramadhan (Operator kamera)
Geno (Asisten Penata Kamera)
Donny Matahari (Digital Imaging Technician)
Yayat Abdul Sholeh (Digital Imaging Technician)

Departemen Grip dan Listrik

Tarmizi Abka (Gaffer)
Habib (Gaffer)

Departemen Artistik

Frans XR Paat (Penata Artistik)
Wihana Erlangga (Asisten Penata Artistik)
Ibanez Nasution (Asisten Penata Artistik)
Endang Sanusi (Penanggung jawab Properti)
Anton Blontang (Penanggung jawab Properti)
Erwan (Penanggung jawab Properti)
Budi Zulu (Penanggung jawab Properti)
Doni Zanuar (Penanggung jawab Properti)
Jeane Elizabet Fam (Penata Busana)
Gatot Murtopo (Penata Busana)
Tsuwaibah (Penata Rias)
Cherry Wirawan (Penata Rias)

Departemen Suara dan Musik

Sutrisno (Perekam Suara)
Moch Indrasetno (Perekam Suara)
Wachdanya Thoersi Argeswara (Penata Musik)
Saint Loco (Lagu Tema)
Khikmawan Santosa (Penata Suara)
Mohamad Ikhsan Sungkar (Penata Suara)
Adhitya SP Indra (Editor Suara)
Syamsurrijal (Editor Suara)
Moch Zaqi (Artis Foley)
Joko Prawoto (Artis Foley)

Departemen Penyuntingan

Raiyan Laksamana (Efek Visual)
Sugeng Hariadi (Efek Visual)
Rudi Hartono (Efek Visual)
Yoga Krispratama (Penata Gambar)
Panji Gendhis (Asisten Penata Gambar)
Zainudin (Asisten Penata Gambar)

PRODUCTION

MNC Pictures

 

CRITICS REVIEW

ABBAS ADITYA (KapanLagi)

NA. Rating: ★★★

AMIR SYARIF SIREGAR (Flick Magazine)

Sebagai seorang rookie, Di Balik 98 justru telah memperlihatkan bahwa Lukman memiliki mata yang jeli dalam materi cerita yang menarik, tata produksi yang apik – meskipun Di Balik 98 seringkali terasa terlalu bergantung pada footage-footage pemberitaan ataupun rekaman video usang mengenai tragedi tersebut di masa lampau, serta pengarahan atas para pengisi departemen aktingnya. Namun Di Balik 98 jelas akan lebih mampu tampil lebih kuat seandainya film ini mau memilih apa yang paling ingin dihantarkannya kepada penonton: menjadi sebuah film drama keluarga yang mengharu biru dengan latar Kerusuhan Mei 1998 atau tampil tegas sebagai drama politik yang mampu menyingkap berbagai kisah yang terjadi di masa itu. Rating: ★★★

REINO EZRA ANRETI (Muvila)

Pada akhirnya, Di Balik 98 bukan gambaran sempurna tentang sebuah peristiwa yang penting bagi negeri ini. Akan tetapi, jika tujuannya adalah mengenang kembali rasa yang timbul ketika peristiwa itu terjadi, film ini jauh dari gagal. Diwakili oleh para tokoh yang mengalami hal-hal yang banyak dialami orang-orang masa itu, memori tentang kegelisahan, kebingungan, kepedihan, juga harapan yang timbul dari dinamika yang terjadi di Mei 1998, bisa ditangkap dari sini. Bukan potret sejarah yang akurat, tetapi lebih kepada potret emosi dari mereka (dan kita) yang pernah melewatinya. Rating: ★★★

WAYAN DIANANTO (Tabloid Bintang)

Gencarnya promosi, kerusuhan Mei yang digambarkan dengan cukup meyakinkan, efek visual yang lembut, timing yang tepat, serta akting para pemain yang berkesan adalah lima hal yang membuat Di Balik 98 mencuri hati penonton. Dan untuk pencapaian ini, kita patut mengapresiasi kinerja sang sutradara. Awal yang indah buat Lukman. Rating: ★★★1/2

 

BLOGGERS REVIEW

CANDRA ADITYA (That Candra Aditya Kid)

Di Balik 98 pada akhirnya jadi film yang penting bagi orang yang kangen dengan akting Amoroso Katamsi yang kembali jadi Pak Soeharto disini. Dan juga karena ini adalah debut Lukman Sardi yang cukup menjanjikan. Tapi soal film yang akhirnya berani memberikan perspektif yang berbeda soal Mei 1998, film ini sama submisifnya kayak Anastasia Steele. Rating: ★★

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

Jangan lupakan juga, bahwa Lukman bukan hanya sekedar merekonstruksi sejarah dengan akurasi tinggi sebagai latarnya, bahwa mereka tak main-main dengan keseriusan penggarapan serta production values-nya, satu yang masih cukup sering jadi problem di film kita, namun juga punya ketegasan cukup dalam mengambil sikap membahas ekses-ekses peristiwa nyata dibalik resiko besar yang jelas disadarinya. Apalagi dalam sebuah kiprah debut dalam penyutradaraan, ini artinya bagus, dan sangat layak buat dihargai lebih lagi. Rating: ★★★

DJAY (So-Called Reviewer)

Kegaduhan politik dan intrik drama digambarkan dengan cukup baik, tatanan setting yang hampir mendekati realita adalah faktor kuat mengapa saya menyukai film ini. Lukman Sardi menandai karya pertamanya sebagai sutradara dengan cemerlang. Rating: ★★★★

ELBERT REYNER (A Cinephile’s Diary)

#Dibalik98 memang punya pemain dan dukungan teknis yang oke, tapi sayangnya, ceritanya terlalu masif dan bercabang-cabang. Rating: ★★

KANIA KISMADI (Ngobrolin Film)

Nevertheless, sebagai debut penyutradaraan layar lebarnya, menurut gue Lukman Sardi luar biasa. Dia bener-bener niat bikin set sedemikian rupa supaya feel tahun 98 masih terasa. Memunculkan aktor-aktor untuk mewakili tokoh-tokoh pada masanya (padahal kebanyakkan dari mereka ngga berdialog sama sekali), mobil-mobilan jadul, munculin tanker di jalan raya, beneran shooting di istana, sampe akses masuk dan “meramaikan Gedung DPR/MPR” segala. Belum lagi adegan demo, kerusuhan, serta penjarahan yang menjadi highlight terbesar dalam film ini. Gue sampe merinding dibuatnya, membayangkan betapa takutnya gue jika saat itu gue berada di sana. Luar biasa. Dan untuk poin ini, I highly appreciate Lukman Sardi dan tim Di Balik 98. Rating: NA

RANGGA ADITHIA (Raditherapy)

Pada akhirnya saya memang bisa memaafkan kekurangan “Di Balik 98”, terima kasih pada tata produksinya yang boleh dibilang digarap tidak main-main. “Di Balik 98” tidak istimewa, tapi untuk film debutan ini sebuah awal yang menjanjikan untuk Lukman Sardi. Rating: ★★★

TAUFIQUR RIZAL (CineTariz)

Terlepas dari naskah yang tampak kebingungan dalam menentukan pijakan, Di Balik 98 masih tampil mengesankan di sektor tata produksi dan departemen akting. Walau ada beberapa ‘kecolongan’ disana-sini (ehem, poster bioskopnya digital printing!) tapi terpancar keseriusan dalam merekontruksi ulang tragedi 1998 – penggambaran demonstrasi, penjarahan, kobaran hasil kerusuhan – lengkap beserta pernak-perniknya, termasuk keterlibatan sejumlah panser, sehingga presentasinya tampak cukup meyakinkan. Sedangkan untuk jajaran pemain, harus diakui diarahkan sangat baik oleh Lukman Sardi – mengingat background sang sutradara – dengan rata-rata pelakon menyuguhkan performa yang tidak mengecewakan. Rating: ★★★

VINCENT JOSE (The Jose Movie Review)

Kekuatan utama DB98 adalah kepiawaian Lukman Sardi dalam menghidupkan adegan-adegan fiktifnya menjadi begitu menyentuh. Terlebih lagi dalam banyak kasus, bagian-bagian yang emosinya terasa paling kuat justru tersampaikan melalui bahasa gambar saja, tanpa banyak dialog. Di bagian akhir pun, DB98 mampu terasa manis menutup ceritanya tanpa juga harus menjadi cliché. Rating: ★★★1/2

 

STILLS

 

Last Updated: 7 February 2015

 

 


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response


(required)