Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Garuda 19: Semangat Membatu (2014)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


0
Posted November 29, 2014 by

 
Full Article
 
 

Garuda19-Poster

Critics Rating: ★★3/4  (1 review)
Film Bloggers Rating: ★★ (2 reviews)

SYNOPSIS

Kesebelasan Garuda 19 berhasil mengalahkan Vietnam pada Piala AFF U-19 2013 di Sidoarjo dan berhak membawa pulang piala pertama yang didapatkan timnas Indonesia sejak 22 tahun sebelumnya. Terbayang kembali jejak para pemain Garuda 19, ketika mulai direkrut Indra Sjafri dan tim pelatih. Perjalanan itu dirasakan oleh seluruh pemain, seperti Yazid, (asal Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara), Sahrul (asal Ngawi, Jawa Timur) dan Yabes (dari Alor, Nusa Tenggara Timur).

Indra Sjafri dan tim pelatih menjemput dan menyatukan mereka dengan Evan Dimas, dkk dalam Garuda 19. Mereka sama-sama merasakan kepahitan dan kegembiraan. Indra Sjafri dan tim pelatih harus menaikkan mental dengan menyuntikkan semangat.

 

Garuda 19 team beat Vietnam in the AFF U-19 Cup, 2013, in Sidoarjo and entitled to bring home the first trophy earned by the Indonesian national team since 22 years earlier.

Then the story looks back at the footsteps of the Garuda 19’s players, when they began to be recruited by Indra Sjafri and his team. The trip was enjoyed by all the players, like Yazid, (Konawe from South, Southeast Sulawesi), Sahrul (from Ngawi, East Java) and Jabez (from Alor, East Nusa Tenggara).

Indra Sjafri and his team pick up and unite them with Dimas Evan et al in Garuda 19. They both feel the bitterness and joy. Indra Sjafri cs must raise their mental by injecting the spirit.

 

General Information

Director: Andibachtiar Yusuf
Scriptwriter: Andibachtiar Yusuf, Swastika Nohara, Rudi Gunawan, Guntur Cahyo Utomo
Cast: Mathias Muchus, Yusuf Mahardhika, Sumarlin Beta, Rendy Ahmad
Running Time: 106 minutes
Release Date: 9 October 2014

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

SHANDY GASELLA (Detik)

“Garuda 19: Semangat Membatu” menampilkan serangkaian kejadian penuh inspirasi. Andibachtiar mengemasnya menjadi tontonan getir namun juga penuh canda. Muaranya adalah impian untuk melaju ke Piala Dunia yang demikian ditekankan sebagai sesuatu yang tak mustahil untuk diraih. Rating: ★★3/4

 

BLOGGERS REVIEW

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

Hanya saja, usaha untuk memuat begitu banyak sisi penceritaan dari seabrek karakternya, sedikit membuat ‘Garuda 19’ agak lemah di percikan emosinya. Bukan skrip itu tak berusaha memuat detil-detil masing-masing karakter di tengah durasi yang sudah hampir mencapai dua jam masa putar, chemistry-nya pun tak bisa dibilang gagal. Tapi fokusnya seakan saling mendistraksi antara anak-anak muda dengan tim Indra Sjafri, membuat kedua bagian ini sulit untuk bisa berjalan beriringan dengan harmonisasi yang maksimal. Belum lagi tumpang tindihnya dengan segala permasalahan sampingan yang ingin disampaikan tentang kondisi persepakbolaan Indonesia, serta beberapa product placement yang kurang rapi. Ending-nya tetap dipaksakan buat diisi oleh lagi-lagi adegan turnamen, namun hampir tak menyisakan ketegangan menanti final goal-nya. Rating: ★★

REINO EZRA ANRETI (Ajirenji Mindstream Reviews)

Film ini pun berjalan hanya lewat beberapa fragmen peristiwa yang seperti tak saling berhubungan secara naratif, dan kayaknya tidak semua adegan itu ada fungsinya untuk cerita besarnya, alias nggak penting. Akibatnya, film ini jadi semacam kumpulan curhat dan kritik semata yang kurang memberikan dampak emosional yang seharusnya timbul. Gw seakan hanya dipersilahkan “nonton dari pinggir”, tidak diajak masuk untuk merasakan benar betapa besarnya tekad anak-anak ini untuk bermain sepak bola, tidak merasakan benar kegembiraan ketika mereka menang, atau kekecewaan ketika kalah.Tetapi kalau mau adil, film ini tidak gagal sepenuhnya. Setidaknya gw jadi punya sedikit gambaran tentang istimewanya timnas U-19 yang memang di-handpicked dengan cukup jeli ini. Gw juga nggak bisa mengabaikan akting effortless dari Mathias Muchus dan si “Arai kecil”, Rendy Ahmad yang bisa pulled off the Javanese accent really well. Dan secara visual, gambar-gambarnya cukup menghibur gw, terutama yang pemandangan alam luar. Namun, semua itu menurut gw tak sanggup menutupi kenyataan bahwa film ini hanya enjoyable di paruh awalnya aja, dan belepotan di paruh akhir. Rating: ★★

 

STILLS

 

Last Updated: 17 December 2014


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response


(required)