Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


2
Posted April 1, 2015 by

 
Full Article
 
 

GuruBangsaTjokroaminoto-Poster

Critics Review: ★★★1/4 (6 reviews)
Film Bloggers Review: ★★★3/4 (11 reviews)

SYNOPSIS

Setelah lepas dari era tanam paksa di akhir tahun 1800, Hindia Belanda (Indonesia) memasuki babak baru yang berpengaruh ke kehidupan masyarakatnya. Yaitu dengan gerakan Politik Etis yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Tetapi kemiskinan masih banyak terjadi. Rakyat masih banyak yang belum mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial antar etnis dan kasta masih terlihat jelas.

Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro) yang lahir dari kaum bangsawan Jawa dengan latar belakang keislaman yang kuat, tidak diam saja melihat kondisi tersebut. Walaupun lingkungannya adalah keluarga ningrat yang mempunyai hidup yang nyaman dibandingkan dengan rakyat kebanyakan saat itu. Ia berani meninggalkan status kebangsawanannya dan bekerja sebagai kuli pelabuhan. Dan merasakan penderitaan sebagai rakyat jelata.

Tjokro berjuang dengan membangun organisasi Sarekat Islam, organisasi resmi bumiputera pertama yang terbesar, sehingga bisa mencapai 2 juta anggota. Ia berjuang untuk menyamakan hak dan martabat masyarakat bumiputera di awal 1900 yang terjajah. Perjuangan ini berbenih menjadi awal-awal lahirnya tokoh dan gerakan kebangsaan.

 

After being freed from the enforcement planting era in the late 1800, Hindia Belanda (Indonesia) enters a new chapter that affects the life of its people, which is the Dutch Ethical Policy. But poverty can still be found everywhere. Most of the people are still uneducated and the social inequality between ethnics and caste is still apparent.

Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro), born from a Javanese aristocratic family with strong Islamic background, wants to change the situation. Eventhough he came from a privileged background and lives more comfortably than most people at the time, he was brave enough to abandon his status and work as a port worker, living the harsh life of a commoner.

Tjokro fought by establishing the Sarekat Islam organization, the biggest official bumiputera organization, with nearly 2 million members. He fought for equal rights for bumiputera in early 1900 during the colonial era. His efforts mark the birth of the national movement, and the emergence of important key figures.

General Information

Director: Garin Nugroho
Scriptwriter: Ari Syarif, Erik Supit, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Garin Nugroho, Kemal Pasha Hidayat
Cast: Reza Rahadian, Putri Ayudya, Maia Estianty, Christine Hakim
Running Time: 160 minutes
Release Date: 9 April 2015

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

ABBAS ADITYA (KapanLagi)

NA. Rating: ★★1/2

AMIR SYARIF SIREGAR (Flick Magazine)

Guru Bangsa Tjokroaminoto jelas sekali lagi membuktikan kehandalan seorang Garin Nugroho. Meskipun hadir dengan beberapa masalah penumpukan konflik dan karakter khususnya di awal pengisahan namun secara keseluruhan Guru Bangsa Tjokroaminoto tetap mampu hadir sebagai sebuah film biopik yang mampu hadir kuat dengan garapan tata teknikal yang berkelas, penampilan para pengisi departemen akting yang sangat solid serta, tentu saja, pengarahan cerita yang akan sangat mampu membuat setiap penontonnya tergugah mengenai bagaimana situasi politik Indonesia saat ini tidak begitu banyak berubah dari masa pergerakan yang dikawal oleh Oemar Said Tjokroaminoto. Indonesia’s finest period piece since Sang Penari (2011). Rating: ★★★★

BOBBY BATARA (All Film Magazine)

Garin dengan lincah memainkan kisah epik ini lewat alur maju mundur dengan pembabakan yang cukup jelas. Ini upaya penting untuk menuturkan sejarah lewat gambar hidup. Sesekali imajinasi liarnya muncul lewat kehadiran figur fiktif yang mewakili kegelisahan zaman. Sebagai Tjokro, Reza Rahadian menunjukkan performa gemilang bersama anggota cast lain dengan level seimbang. Tapi mengingat ini film serius dengan durasi panjang, siapkan stamina sebelum menonton. (taken from print edition #65) Rating: ★★★★1/2

LULU FAHRULLAH (Cinemags)

Di tangan sineas Garin Nugroho, kisah hidup Tjokroaminoto diangkat ke dalam layar lebar berdurasi 161 menit yang meski terbilang panjang, namun begitu sedap dan ‘bergizi’ untuk dinikmati hingga kami merasa masih menginginkan filmnya untuk terus berlanjut. (taken from print edition #191) Rating: ★★★★

SHANDY GASELLA (Detik)

Tjokroaminoto itu seperti Sang Kiai yang dibuat dengan sedikit lebih artistik.
165 menit, dan gue berharap ada intermission, lelah euy. Rating: ★★

TITIS SAPTO RAHARJO (Flick Magazine)

Filmnya bagus, terutama buat yang pengen tau sejarah Indonesia. Detailnya juga oke tapi durasi kelamaan. Rating: ★★★

 

BLOGGERS REVIEW

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

Seriously, kita sudah cukup lama tak punya biopik sejarah dengan pencapaian setinggi ini. Lavishly made, effectively told and wonderfully acted, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ is simply a classic. A cinematic grandeur! Rating: ★★★★1/2

DJAY (So-Called Reviewer)

Eksekusi film ini amat sangat baik, desain yang keren, musik yang luar biasa bagus, dan akting para pemain yang tidak perlu diragukan lagi. Mungkin penonton awam akan sangat bosan dengan kemunculan Reza Rahadian yang terus menerus bermain film di sana-sini. Namun, jika Tjokroaminoto diperankan oleh aktor selain Reza Rahadian mungkin nyawa film ini akan hilang sebagian. Selain Reza, akting Deva Mahendra sebagai Soekarno cukup mencuri perhatian, namun Mbok Toen-lah pemenangnya. Wanita jawa dengan celetukan khas Jawa yang menyegarkan film. Rating: ★★★★

ELBERT REYNER (A Cinephile’s Diary)

Powerful, epic in scale, and beautifully filmed, Guru Bangsa Tjokroaminoto will long be remembered as one of the greatest film we have ever made. Rating: ★★★★1/2

ERLITA PUTRANTI (It Caught My Eyes)

Guru Bangsa: Tjokroaminoto was the kind of movie with such beautiful cinematography, costume design, and actors that fell short. Because the story in Guru Bangsa was fragmented. It feels like a mere documentation of important moments and not a coherent story. But it still was a nice introduction about who Tjokroaminoto is, though I don’t really get the whole “teacher” vibe off of him. Rating: ★★★1/2

HARY SUSANTO (Movienthusiast)

Big, beautiful, but boring. Guru Bangsa Tjokroaminoto sebenarnya punya semuanya untuk menjadikannya film biografi yang bagus, ya, semuanya, kecuali satu, penceritaan yang terlalu panjang dan membosankan. Menontonnya seperti sedang membaca buka sejarah dengan kemasan menarik namun sayang kelewat tebal dengan kualitas isi yang menjemukan. Rating: ★★★1/2

JOSEP ALEXANDER (Postingan Biasa)

Film sejarah yang apik, informatif dengan cemerlangnya akting para pemain. So far ini film Indonesia terbaik 2015. Rating: ★★★★

RASYID HARRY (Movfreak)

Tidak sempurna, tapi Guru Bangsa Tjokroaminoto layak disebut sebagai puncak kematangan bertutur Garin Nugroho setelah 30 tahun berkarya. Bercerita penuh makna dan menjadi penyatuan sempurna realita dunia nyata dengan surealisme dalam kebebasan ekspresi seni. Salah satu film Indonesia dengan production value terbaik. Rating: ★★★★

REINO EZRA ANRETI (Ajirenji Mindstream Reviews)

Tata visualnya gilak men, gw seakan lupa bahwa Indonesia sanggup bikin desain produksi, kostum, make up, properti, dan casting yang detail.dan menyeluruh seperti yang ditunjukkan film ini (asal ada dananya, tentu saja). Tapi juaranya buat gw adalah sinematografi dari Ipung Rachmat Syaiful (he did the brilliant Kala and Rayya Cahaya di Atas Cahaya) yang bisa menangkap itu semua dengan sangat sangat cantik dan berdampak. Warna-warnanya, komposisinya, pergerakannya, astonishing-lah. Juga dipoles oleh visual effects yang paling seamless yang pernah gw lihat dalam film Indonesia (iya, ada visual effects-nya lho, dikira itu pelabuhan betulan?) yang membuktikan bahwa Tjoktoaminoto adalah film dengan produksi terhebat yang pernah ada di Indonesia. Rating: ★★★1/2

SHADIA PRADSMADJI (Anak Film)

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati film Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Seluruh elemen di film ini bersinergi dengan baik dan saling mendukung. Rating: ★★★★

TAUFIQUR RIZAL (CineTariz)

Dengan kombinasi yang mempertemukan kedahsyatan dalam berolah peran dari para jajaran pemainnya bersama tata produksi yang terancang begitu megah mewah yang meneriakkan secara lantang besarnya bujet yang digelontorkan, skrip padat berisi sarat informasi mengenai kontribusi dari Bapak Para Pendiri Bangsa, dan pengarahan menawan Garin Nugroho yang sekali ini gaya teatrikalnya yang khas memberikan warna tersendiri pada film, maka sudilah kiranya menyebut Guru Bangsa Tjokroaminoto sebagai salah satu pengalaman sinematis terbaik yang pernah hadir di sinema Indonesia. Rating: ★★★★

VINCENT JOSE (The Jose Movie Review)

Durasi yang 161 menit tentu saja terasa begitu panjang, meski harus diakui sebenarnya belum cukup untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang sosok H.O.S. Tjokroaminoto. Dengan tata adegan yang masih terasa seperti kumpulan fragmen yang berdiri sendiri-sendiri, ditambah alurnya yang maju-mundur, GBT tidak selalu terasa nyaman untuk diikuti. Wajar jika sesekali Anda merasakan kelelahan atau bosan. Tapi secara keseluruhan GBT menawarkan sebuah biopic dengan konsep cerita yang terarah. Rating: ★★★★

 

Last Updated: 15 July 2015


2 Comments


  1.  
    bosokuIndo

    film ini memang lama tapi film punya skenario terbaik daripada film indonesia lainnya. mungkin bisa saya sejajarkan dengan the raid 2 dari sudut kepuasannya.the raid 2 puas karena actionnya tapi di film cokroaminoto meninggalkan rasa campur aduk. dari nasionalisme, religius (sedikit), ketawa (banyak), romantis dan sedih.rating/nilai ★★★★1/2





Leave a Response


(required)