Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Istirahatlah Kata-Kata / Solo, Solitude (2016)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


0
Posted November 30, 2016 by

 
Full Article
 
 

istirahatlahkatakata-poster

Critics Review: ★★★3/4 (3 reviews)
Film Bloggers Review: ★★★1/2 (11 reviews)
Audience Review: ★★★1/2 (18 reviews)

SYNOPSIS

Rezim Suharto berkuasa di Indonesia selama lebih dari 30 tahun dan terus-terusan membunuh tumbuhnya demokrasi. Wiji Thukul, penyair yang kata-katanya sering diteriakkan dengan bangga oleh demonstran dalam protes-protes politik, sangat kritis terhadap rezim Suharto dan tak gentar menyuarakan pikirannya. Saat kerusuhan terjadi tahun 1996 di Jakarta, ia dan beberapa aktivis lain dianggap bertanggung jawab. Wiji Thukul terpaksa melarikan diri ke Pontianak, Kalimantan, dan hidup dalam persembunyian selama delapan bulan, kadang-kadang dengan orang yang sama sekali tak ia kenal. Di sana, ia harus mengubah identitasnya beberapa kali, tetapi tetap aktif menulis puisi dan cerita pendek dengan nama pena. Sementara itu, di Solo, Jawa Tengah, istrinya, Sipon, hidup dengan dua anak mereka di bawah pengawasan ketat. Bulan Mei 1998, ketika Suharto dipaksa lengser oleh rakyat, Wiji Thukul dinyatakan hilang.

 

The Suharto regime has held power in Indonesia for over 30 years, shutting down democracy time and time again. Highly critical of the regime and unafraid to speak his mind, Wiji Thukul is a poet whose words are often yelled proudly by the crowd during political protests. When riots broke out in Jakarta in 1996, he and a few other activists were accused to be responsible. Forced to flee, Wiji escaped to Pontianak in Borneo where he hid for eight months, sometimes living with complete strangers. There, he had to change his identity several times, but continued to write poetry and short stories under a pen name. In the meantime, in Solo, Central Java, his wife, Sipon, lived with their two children under constant surveillance. In May 1998, when Suharto was deposed by his own people, Wiji Thukul was declared missing.

General Information

Director: Yosep Anggi Noen
Scriptwriter: Yosep Anggi Noen
Cast: Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Melanie Subono, Eduwart Boang Manalu, Dhafi Yunan
Running Time: 97 minutes
Release Date: 1 December 2016 (Jogja-NETPAC Asian Film Festival)

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

BOBBY BATARA (All Film Magazine)

Napak tilas buat generasi lawas. Kontemplasi buat generasi masa kini. Rating: ★★★★1/2

TAUFIQUR RIZAL (Flick Magazine)

Tanpa harus banyak berkata-kata, hanya dalam kesunyiannya, Istirahatlah Kata-Kata mampu pancarkan rasa cekam dan goreskan rasa pilu yang cukup dalam. Rating: ★★★★

WAYAN DIANANTO (Tabloid Bintang)

NA. Rating: ★★★

 

BLOGGERS REVIEW

ARUL FITTRON (Arul’s Movie Reviews)

Kesunyian dalam film Istirahatlah Kata-Kata adalah perwakilan atas kasus hilangnya Wiji Thukul yang seakan-akan dibungkam banyak pihak. Meski tak mengenalkan runtut tentang Wiji Thukul di Istirahatlah Kata-Kata, tetapi film dapat memancarkan kepahitan masa Orde Baru dengan tepat. Yosep Anggi Noen berusaha membuat Istirahatlah Kata-Kata menjadi sangat dekat dengan realita kaum menengah ke bawah yang tertindas. Sayangnya, gambaran realita kaum tersebut bisa dikemas lebih halus lagi. Tetapi, Istirahatlah Kata-Kata adalah film yang penting. Rating: ★★★1/2

DANIEL IRAWAN (Daniel Dokter)

There’s a strong, creepy, and unpleasant atmosphere lurking beneath Yosep Anggi Noen’s Istirahatlah Kata-Kata to capture the subject’s last days and idealism beyond political supressions. Rating: ★★★★

ERLITA PUTRANTI (It Caught My Eyes)

Being on the run is never easy, and Yosep Anggi Noen had the luxury to go full length on how it affect Wiji Thukul. Instead, I got nothing. During 105 minutes, I learned nothing about Wiji Thukul. Not of the fire in him, his brilliance, his defiance, not even about his suffering and how he cope with it. For a story that’s supposedly captured the life of Wiji Thukul, it really didn’t help me to know him as a person. Rating: ★★

DJAY (So-Called Reviewer)

Istirahatlah Kata-Kata adalah pernyataan visual tentang perlawanan Wiji Thukul terharap rezim yang berkuasa kala itu. Film ini dibuat dengan baik oleh Yosep Anggi Noen, tanpa banyak ornamen yang berlebihan. Pas dengan situasi saat itu. Sunyi. Sendu. Namun magis.Istirahatlah Kata-Kata sebegitu indahnya dan sebegitu getirnya. Marissa Anita memang layak diperhitungkan di dunia film Indonesia. Dia belum pernah salah ambil peran dan bermain gemilang. Rating: ★★★★

ODAGOMA RHEINHARD (Kinerasya)

Istirahatlah Kata-Kata adalah surat cinta untuk perlawanan. Setiap momennya adalah puisi yang ditulis di dalam sunyi. Usaha mengingat dan mewariskan ingatan semacam ini selalu layak dirayakan. Dan Yosep Anggi Noen tahu cara melakukannya. Sebuah film yang dibangun dari dan dituturkan lewat puisi. Simbolik, tapi bicara banyak. Berjarak, tapi terasa dekat. Rating: ★★★★

PASKALIS DAMAR (Sinekdoks)

Give yourself up and let Solo, Solitude rest your words. Let them buried with the seeds of resistance. Let them bloom with poems of soul. Rating: ★★★★

RANGGA ADITHIA (Raditherapy)

Kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tahi. Istirahatlah Kata-Kata adalah sebuah tontonan yang menyadarkan, mengingatkan, dan mengesankan. Rating: ★★★★

RASYID HARRY (Movfreak)

Istirahatlah Kata-Kata adalah bentuk cinta, buktikan kelihaian dan kematangan Yosep Anggi Noen. The best movie of the year! Rating: ★★★★★

REINO EZRA ANRETI (Ajirenji Mindstream Reviews)

Deskripsi sederhana tapi kena tentang sebuah era, walau gw struggling sama estetika yang ingin dicapai. Rating: ★★★

TIMOTIUS PRASSANTO (Sobekan Tiket Bioskop)

Istirahatlah Kata-Kata bukanlah sebuah film biografi untuk memperkenalkan siapa itu Wiji Thukul pada para penontonnya. Informasi mengenai sang tokoh dalam film ini sangat minim, hanya diantar lewat latar belakang cerita dalam bentuk tulisan di awal dan akhir film. Praktis film ini hanya fokus pada sepenggal kehidupan Wiji Thukul, yang kemudian diinterpretasikan sendiri oleh Yosep Anggi Noen sebagai penggalan kehidupan yang menjadi titik balik perlawanan terhadap penguasa penindas. Sebuah momen beristirahat dalam pengasingan, untuk kemudian berucap dalam tindakan yang tidak bisa lagi di tahan-tahan. Rating: ★★★★

VINCENT JOSE (The Jose Movie Review)

Istirahatlah Kata-Kata puts Yosep Anggi Noen’s signature treatment into Wiji Thukul’s frame. More straightforward but less impactful than Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya. Rating: ★★★

 

AUDIENCE REVIEW

ADE HENDY

Yosep Anggi Noen harus diakui mampu membuat setiap monolog Wiji Thukul terasa getir dan memikat secara bersamaan. Monolog yang kadang berupa puisi juga terasa lekat dengan esensi dari judul film ini. Alur lambatnya jelas akan menjadi “tantangan” bagi setiap penonton. Ia dapat mendukung penciptaan atmosfer kesunyian dan pelarian ke daerah terpencil, namun bisa juga berpotensi menurunkan intensitas film sendiri. Poin terakhir yang masih terasa. Rating: ★★1/2

ADHIEM MIZAN MAULANA

Istirahatlah Kata-Kata sebagai film arthouse pertama yang saya tonton di bioskop, entah kenapa saya tidak menikmatinya. Tidak, film ini tidak jelek kok. Kurang aja rasanya film biopik dibuat dengan style kayak gini. Sama seperti puisinya, menonton Istirahatlah Kata-Kata membutuhkan kemampuan menafsirkan makna. That’s the problem, saya tak cukup “mampu” untuk menafsirkannya. Rating: ★★★

AJI BAGOES

Sebuah catatan pelarian yang sunyi. Sunyi yang mengintimidasi. Sunyi yang gelisah. Sunyi yang bukan sunyi. Rating: ★★★★

AMMYTA PRADITA

Kesunyian yang ditawarkan film ini sempat membuat mata hampir memejam di paruh pertama film diputar, apalagi saya tidak familiar dengan karya Wiji Thukul. Baru di scene terakhir, bulu kuduk dibuat berdiri dengan kekuatan akting Marissa Anita. Agak ragu untuk merekomendasikan film ini ke orang awam karena tema yang diangkat kurang universal. Rating: ★★★★

ARIA GARDHADIPURA

Istirahatlah Kata-Kata ini kayaknya bukan film untuk semua orang. Dengan pace yang lambat saya gak jamin semua orang bisa menikmati film terbaru Yosep Anggi Noen ini. Tapi sebagai sebuah pembelajaran sejarah dan masa lalu negara kita yang kelam, Istirahatlah Kata-Kata merupakan sajian menarik yang tidak bisa dilewatkan apalagi kalau Anda suka dengan sajak-sajak Wiji Thukul. Well done. Rating: ★★★

ARIF KUSMAN

Yosep Anggi Noen berhasil membuat Istirahatlah Kata-Kata begitu lembut, hangat, dan jujur. Hampir tak ada kejutan dan letupan tapi begitulah Istirahatlah Kata-Kata, ingin dicintai apa adanya. Marrisa Anita apik tenan. Rating: ★★★★

DAFFA AKHMAD

It’s a very heartwarming movie. Yang kata orang rada scary vibe, malah ngerasa adem di hati. Sebagai arthouse, film ini udah bagus, tapi yang aneh tuh ketidaksesuaian premis dengan apa yang disajikan di film. And through the film, kita cuma ngeliat Wiji Thukul aka Paul hepi-hepi di Pontianak. Gak ada gitu, ekspresi dia takut bakal ketauan sama aparat. For me, it’s just a family movie. Udah. Rating: ★★★

DHAMAR SUSENO

Istirahatlah Kata-Kata merupakan film Indonesia pertama terbaik yang saya tonton di awal 2017. Rating: ★★★1/2

GALIH SURYOPUTRO

Ketika di kampus kita sering mendengar ungkapan bahwa memilih jalan sebagai aktivis atau dengan kata lain memilih jalan perjuangan adalah jalan yang sunyi senyap dan sedikit orang yang memilih jalan tersebut. Dalam film ini, Yosep Anggi Noen berhasil menerjemahkan ungkapan tersebut dalam sebuah film dengan eksekusi yang sempurna. Rating: ★★★1/2

HENNY ANDRYANI PUTRI

Saya belum rela filmnya sudah selesai dan lampu sudah menyala. Begitupun orang orang satu teater tadi. Semua orang di teater tadi belum ada yg beranjak dari tempat duduk sampai credit title-nya selesai. Emosinya jelas tersampaikan kepada kami melalui setiap kata dan ekspresi Wiji Thukul dan istrinya. Rating: ★★★★★

HISKIA WEADCAKSANA

Anggi terlihat senang bermain-main dalam kondisi tenang yang tanpa ada suara atau kata-kata yang mengganggu sama sekali, layaknya ia benar-benar mengistirahatkan kata-kata. Ia tahu benar kapan kata-kata dan segala suaranya masuk, dan memang itu berjalan sangat efektif dalam membangun dinamika film ini. Rating: ★★★★

LAZUARDI PRATAMA

Aku suka bagaimana Istirahatlah Kata-Kata memasukkan simbol-simbol subtil dalam sejumlah kesempatan. Itu membuat film ini jauh lebih nyaring berbicara di antara kesunyian yang mengiris. Rating: ★★★1/2

M HABIBIE IBNU HALIM

Saya tak merasakan perasaan terancam saat pelarian. Tata suara yang alami dan indah adalah bagian yang paling saya suka. Sisanya, ya bagus tapi tak berkesan. Rating: ★★★

MUMPUNI CITRA

Bagaikan menemukan kepingan sejarah yang terbuang. Getir, pahit, dan sunyi, namun ya seperti itulah adanya. Tontonlah dengan jujur dan penuh kelapangan hati agar bisa menikmatinya. Rating: ★★★★

TAUFAN SUGIYAT

Suka dengan detail setting-nya, yang sangat merepresentasikan masyarakat pada umumnya. Suka dengan akting pemerannya, sangat natural dan berkarakter. Tidak suka dengan pengadeganannya yang selalu dibuat overlong, tidak efektif dan sangat membosankan. Setidaknya Istirahatlah Kata-Kata bisa lebih dinikmati daripada Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya yang absurd itu. Rating: ★★★

WAHYU ALLAMY

Istirahatlah Kata-Kata, film yang menggambarkan kesunyian. Rating: ★★★★

WIKAN SAPUTRI

Dramatis! Rating: ★★★★

 

Last Updated: 23 January 2017


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response


(required)