Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Magic Hour (2015)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


2
Posted August 11, 2015 by

 
Full Article
 
 

MagicHour-Poster

Critics Review: ★3/4 (6 reviews)
Film Bloggers Review: ★★1/2 (3 reviews)

SYNOPSIS

Dalam dunia fotografi atau sinematografi, magic hour atau yang juga biasa disebut golden hour, didefinisikan sebagai masa setelah matahari terbit atau sebelum matahari terbenam, saat warna langit agak kemerah-merahan atau lebih lembut ketimbang saat matahari berada tinggi di angkasa.

Keindahan transformasi warna alam tersebut yang memiliki kesamaan dalam kisah asmara Raina (Michelle Ziudith) seorang gadis pengantar bunga dan Dimas (Dimas Anggara) pria tajir yang cuek banget di film MAGIC HOUR.

Kehadiran sosok Dimas yang tidak direncanakan bagaikan magic hour, momen penuh keajaiban yang mampu melepas rasa sedih, membuka mata dan menerangi jalan yang ditempuh Raina.

Sayangnya rasa cinta yang dirasakan Raina terhadap Dimas, justru membuatnya bimbang, bahkan panik! Karena ada cinta lain yang menantinya sejak kecil, yaitu cinta sahabatnya, Toby (Rizky Nazar). Raina tidak mau kehilangan Toby, tapi dia sadar sudah menyakitinya. Sementara Dimas sendiri bukanlah pria yang tepat untuk Raina. Dimas sudah dijodohkan oleh ibunya dengan Gweny (Nadia Arina), yang tidak lain adalah sahabat Raina. Lagi-lagi cinta Raina harus dibenturkan pada pilihan antara cinta atau persahabatan.

Namun cinta bukanlah cinta jika tidak melalui sebuah ujian. Begitupun cinta Raina dan Dimas. Ketika mereka berjuang menyatukan cinta, semakin banyak tragedi yang memisahkan.

General Information

Director: Asep Kusdinar
Scriptwriter: Sukhdev Singh, Tisa TS
Cast: Dimas Anggara, Michelle Ziudith, Rizky Nazar, Nadia Arina
Running Time: 96 minutes
Release Date: 13 August 2015

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

ABBAS ADITYA (KapanLagi)

NA. Rating: ★★

BOBBY BATARA (All Film Magazine)

NA. Rating: ★★★

LUSI TRIANA (Muvila)

NA. Rating: ★

SHANDY GASELLA (Detik)

Baru kali ini gue nonton film sambil mainin hape. Ini berkat Magic Hour. Rating: 0

TAUFIQUR RIZAL (Flick Magazine)

Magic Hour bisa dikata berhasil dalam kaitannya menghibur audiens yang menjadi targetnya, dengan Raina-Dimas-Toby tak ubahnya generasi sosial media dari Rachel-Farel-Luna. Skrip dari film ini memang sungguh mencederai logika lantaran si penulis ingin memunculkan momen-momen romantis maupun mencarikan jalan keluar yang mudah bagi sederet konflik tokoh-tokohnya–tidak sedikit diantaranya yang membuatmu ingin menepuk jidat, seperti halnya saat menyaksikan keklisean adegan di suatu judul FTV–yang beruntungnya masih bisa agak tertutupi kepincangannya berkat pemberian sejumlah twist khususnya menjelang tutup durasi yang sulit dipungkiri cukup menyentuh. Rating: ★★1/2

WAYAN DIANANTO (Tabloid Bintang)

Jalinan cinta segi tiga dibuat begitu intens. Sama seperti Heart, Magic Hour menyisipkan petuah-petuah cinta yang diucapkan dengan gaya tidak terlalu puitis. Inilah yang menurut kami menjadi “racun” yang mengepayangkan penonton. Rating: ★★1/2

 

BLOGGERS REVIEW

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

Though having many flaws in the plot and medical logic, Magic Hour works best at its every element to teens as the target audience. Rating: ★★1/2

DJAY (So-Called Reviewer)

Magic Hour ini sebenarnya dikemas dengan baik. Bahkan gue suka di beberapa scene di mana penulis mampu nge-drive cerita dengan baik. Tapi sayang banget, eksekusinya FTV banget. I couldn’t resist to blame the director for this little mistake. Gue suka sama cast-nya yang mampu bikin Magic Hour ini bukan omong kosong kisah cinta-cintaan menya-menye biasa. Oh BTW, the ending was bad. Terkesan dipaksain dan FTV-esque itu tadi. Rating: ★★1/2

JOSEP ALEXANDER (Postingan Biasa)

NA. Rating: ★★1/2

 

Last Updated: 5 September 2015


2 Comments


  1.  
    Alang

    Sebelum nonton (pasti nggak),saya sudah membayangkan sebuah tayangan tidak berisi ala FTV yang dibintangi oleh kedua cast utamanya. Entah benar atau tidak, tapi melihat trailernya saja sama sekali tidak ada sesuatu yang menggerakkan untuk sekedar tidak skeptis.

    Intinya, jika SCTV menayangkan ‘yang beginian’ tiap malam, terus ngapain harus beli tiket bioskop? Aku sih nggak.




  2.  
    ulij

    Pertama saya ngak ada niat buat nnton tapi dipaksa sama teman. Akhirnya nnton. Ngak banyak harapan melihat castnya satu2 yg gue harapkan hanya pengen nnton tante. Meriam.. yup gue puas dengan ackting tante tapi benar gue ngak terlalu menikmati acting pemeran lainya… gak tau karena memang gue ngak naruh harapan dari pertama sehingga gue selalu menganggap remeh.. well cukup menghibur minimal gue ngak ngantuk nontonya ada lucu, sedih, gak bikin boring cocok buat anak anak mudah.. dibanding film sejenis semacam remember when dan filmnya steven wiliam dgan shae lupa gue.. ini jauh lebih baik menurut saya.. ceritanya cukup menarik belum pernah diangkat kelayar lebar gak tau di ftv,gue suka gaya pengambilan gambar yg memfokuskan ke para pemain dan latarnya di blur but karena sepanjang film begitu gue jadi bosan… maaf reviewnya jelek newbie





Leave a Response


(required)