Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Melancholy Is a Movement (2015)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


2
Posted April 1, 2015 by

 
Full Article
 
 

MelancholyIsAMovement-Poster

Critics Review: ★★ (3 reviews)
Film Bloggers Review: ★★1/2 (12 reviews)

SYNOPSIS

Berkisah tentang cita-cita seorang pembuat film yang mendadak terhenti oleh sebuah kejadian. Dinamika teman-teman di sekitarnya dan kebutuhan untuk membayar sewa kantor membuat ia harus bergerak dan menerima tawaran untuk membuat film religi. Sebuah genre yang selalu dihindarinya. Tanpa disadari, ia terseret dalam sebuah perangkap kehidupan: sejauh mana ia bisa pertahankan cita-citanya dengan kemungkinan-kemungkinan kehidupan yang sepertinya punya kehendak sendiri.

General Information

Director: Richard Oh
Scriptwriter: Richard Oh
Cast: Joko Anwar
Running Time: 75 minutes
Release Date: 2 April 2015

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

AMIR SYARIF SIREGAR (Flick Magazine)

Richard Oh secara berani (baca: nekat) menghadirkan alur penceritaan filmnya secara acak – berkisah tentang satu cerita di adegan lain namun kemudian berpindah ke cerita lain yang sama sekali tidak berhubungan di adegan berikutnya. Menantang? Sangat. Namun Richard Oh jelas mengerti apa yang sedang ia kerjakan. Setiap adegan cerita acak tersebut mampu secara perlahan mempertegas bagaimana jalan pemikiran sekaligus kondisi emosional sang karakter utama. Penyajian kisah dalam balutan komedi juga mampu dimanfaatkan untuk menjadikan jalan cerita film menjadi lebih tajam penyampaiannya. Rating: ★★★

BOBBY BATARA (All Film Magazine)

NA. Rating: ★★1/2

SHANDY GASELLA (Detik)

Singkatnya, ‘Melancholy is a Movement’ adalah film yang jauh lebih njelimet ketimbang ‘Opera Jawa’-nya Garin Nugroho, maupun ‘Babi Buta yang Ingin Terbang’-nya Edwin sekalipun. Dibandingkan dengan ‘Melancholy is a Movement’, film ‘Opera Jawa’ jadi terlihat seperti ‘Habibie & Ainun’ yang kisahnya asik dan gampang dicerna itu. Rating: 1/2

 

BLOGGERS REVIEW

ATIKAH HANIFATI (Anak Film)

Melancholy is a Movement adalah salah satu film Indonesia yang bisa dibilang tidak biasa karena cara pemaparan narasi yang membuat para penonton harus membentuk interpretasi sendiri tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam film. Rangkaian komedi aneh dan absurd pun seolah menjadi bumbu tambahan untuk membuat film ini makin misterius dengan caranya sendiri. Rating: ★★★1/2

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

Yes this is mostly empty. Static. But look closer and feel deeper. Barangkali … barangkali, sebagian dari Anda akan bisa menangkap maknanya. Seperti kata Joko ke Upi di salah satu adegannya : ‘deep deep gitu’. Selamat mencoba, dan semoga sukses. Rating: ★★1/2

DJAY (So-Called Reviewer)

Melancholy is A Movement is not a movie that typically people will love or hate. Kalau bukan Joko Anwar yang menjadi pemain utamanya mungkin film ini jadi basi. Joko just being … Joko Anwar in a daily basis. Kalau ada yang bertanya apakah filmnya recommended atau tidak? Saya juga akan kebingunan jawabnya. Ini film personal dari seorang filmmaker. Rating: ★★1/2

DRAGONO HALIM (Be Noted)

Penonton dibuat merasa ditinggal begitu saja. Semua ini membuat saya–maupun banyak penonton lainnya–beranggapan bahwa “Melancholy is a Movement” dibuat hanya untuk bisa dipahami sang sutradara, sang penulis naskah, dan khalayak “sefrekuensi”. Kalau sudah begini, rasanya agak kurang relevan untuk mempermasalahkan soal begitu banyaknya pelakon yang dilibatkan tanpa kekuatan lakon apa-apa. Memunculkan celetukan dalam hati: “rasa-rasanya ini bisa jadi keren banget, tapi kok begini?” Rating: ★

ELBERT REYNER (A Cinephile’s Diary)

Melancholy Is a Movement, while not for everybody, is a bold, smartly written meta-film with lots of hilarious self-mock wits and ironies. Rating: ★★★★

ERLITA PUTRANTI (It Caught My Eyes)

Melancholy Is a Movement, for me, is a meta-fiction with blurred line that try too hard to be contemplative. I appreciate the witty quips and sarcastic take, but it is not my cup of coffee and I honestly did not enjoy the movie. Rating: ★★

JOSEP ALEXANDER (Postingan Biasa)

Overall not bad sih, tapi belum bisa ngeblend dengan penonton awam seperti saya. Alangkah lebih baik jadi koleksi pribadi aja. Rating: ★★

RASYID HARRY (Movfreak)

Menilai sebuah fim bagus hanya karena berbeda memang terasa amat menggampangkan. Tapi salah satu alasan kenapa Melancholy is a Movement begitu berkesan bagi saya memang karena film dengan bentuk penggarapan seperti ini sudah lama saya impikan hadir dalam perfilman Indonesia. Film macam apa? Dingin, misterius, menggelitik dan pastinya deep deep gimana gitu. Rating: ★★★★

ROHMAN SULISTIONO (Ocehan Si Momo)

Seperti salah satu dialog di filmnya, “Penonton bakal mikir deep deep gimana gitu.” Nah, film ini nyoba dibuat “dalem”, namun seperti tak ada jiwa di dalemnya. Potensi cast dengan nama-nama besar disia-siakan, banyak scene dengan long take terlalu dipanjang-panjangin. Gue gak mau sok jenius dengan paham banget tentang film ini. Jujur ini film cukup membosankan dan terasa kaya eksperimen yang kurang berhasil. Rating: ★

TAUFIQUR RIZAL (CineTariz)

Sentilan sentilun di ‘Melancholy is a Movement’ memang menggelitik, sayangnya gaya tutur yang dikemas ‘nyeni’ membuat film terasa melelahkan. Rating: ★★1/2

TIMOTIUS PRASSANTO (Sobekan Tiket Bioskop)

Dalam skala komersil jelas Melancholy is a Movement adalah film yang sulit, baik untuk meraih pendapatan maupun meraih pemahaman dan kesenangan dari para penontonnya. Namun dalam skala idealisme, Richard Oh cukup sukses dalam menciptakan sebuah film art house yang mungkin akan disukai oleh kalangan penonton snob. Jelas film ini akan memecah penonton menjadi dua kelompok besar; love it or hate it. Tapi yang jelas, film ini cukup menghibur dengan komedi ringan, hingga black comedynya – meski rasanya banyak inside jokes yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu. Rating: ★★★1/2

VINCENT JOSE (The Jose Movie Review)

Meski punya beberapa joke menghibur, secara keseluruhan MiaM harus diakui sulit untuk dinikmati, tapi bukan berarti mustahil bisa cukup lama berkesan dalam ingatan. Untung saja sinematografi dari Yunus Pasolang berhasil membingkai tiap adegan (termasuk adegan-adegan statis sekalipun) menjadi gambar-gambar bergerak yang begitu cantik dan indah. Rating: ★★1/2

 

Last Updated: 22 May 2015


2 Comments


  1.  
    kumbaya

    Bikin film aneh boleh2 aja tapi pijakan awal ceritanya harus kuat, apalagi kalau masukin hal2 yg nyata seperti Joko Anwar jadi “diri sendiri”, misalnya, dalam kehidupan nyata kan ngapain juga produser film religi make Joko Anwar, emang sutradara cuma dia doang, mereka punya SDM sendiri, punya pasar sendiri, jadi pijakan awal cerita udah nggak masuk akal males nerusinnya… harus berimbang yg “real” nya harus real banget… yg absurdnya harus absurd banget, baru filmya bisa berhasil mencampuradukan realitas vs absurditas




  2.  
    P. Mahpudin

    FIlm ini tidak bagus, hambar dan basi. Tidak menyuguhkan kekuatan cerita pada penonton, sayangnya lagi kenapa harus Joko Anwar yang menjadi Joko Anwar yang dijadikan tokoh utama film ini, kenapa tidak aktor kawakan aja seperti , Tio Pakusadewo jadi Joko Anwar, atau Joko Anwar jadi Teguh karya, atau siapalah.., betul tuh komentnya Kumbaya, mau real, ya ral sekalian dengan segala karakternya, mau absurd, absurd sekalian. Banyak beberapa adegan, terutama pamain-pemain baru yang kagak bisa akting alias kaku, seperti reporter TV, atau pembantunya Joko Anwar yang ditanya tentang apa yang dikatakannya kalau sedang marah. Beberapa adegan yang tidak menarik dibuat dengan durasi yang sangat lama, seperti adegan Joko Anwar mencuci piring atau sedang menonton TV, membosankan penonton. Secara keseluruhan film ini tidak seeksentrik yang saya perkirakan. Film ini gagal.





Leave a Response


(required)