Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Silent Hero(es) (2015)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


0
Posted February 25, 2015 by

 
Full Article
 
 

SilentHeroes-Poster

Critics Review: ★★1/2 (2 reviews)
Film Bloggers Review: ★★1/2 (4 reviews)

SYNOPSIS

Yunia alias Yong Yong, mahasiswa asal Singkawang yang suka bermain barongsai sejak kecil, dipindah ke Jakarta. Ayahnya ingin memisahkannya dari lingkungan pergaulannya di Singkawang dan minat Yunia pada barongsai. Namun, kecintaannya akan barongsai membawanya bergabung dengan sebuah sanggar barongsai pimpinan Suhu Fang di Jakarta dan bertemu dengan Ernest alias Ah Cheng. Mereka memiliki impian yang sama: ingin membanggakan Indonesia melalui barongsai.

Yunia dan Ernest menemukan fakta menyedihkan mengenai nasib dan masa depan sanggar tersebut. Bersama dengan anggota lain, Pandapotan Sinaga, mereka berusaha mencari jalan keluar untuk membangun sanggar tersebut. Sayangnya, cara yang mereka lakukan tidak sejalan dengan Suhu Fang, sehingga ketika mereka mengikuti sebuah kompetisi dan berhadapan dengan musuh bebuyutan Suhu Fang, yaitu Suhu Hong, mereka harus mencari solusi sendiri.

 

Yunia aka Yong Yong, student from Singkawang, who loves to play lion dance since childhood, is moved to Jakarta. His father wants to separate her from her peers in Singkawang and from her interest in lion dance. However, her love of lion dance takes her to join a lion dance studio of Teacher Fang in Jakarta and meets with Ernest aka Ah Cheng. They have the same dream: to boast Indonesia through the lion dance.

Yunia and Ernest discover the sad facts about the fate and future of the studio. Together with the other member, Pandapotan Sinaga, they are trying to find a way to rebuild the studio. Unfortunately, the way that they do is not in line with Teacher Fang, so when they follow a competition and dealing with mortal enemy of their teacher, ie Teacher Hong, they have to find their own solutions.

General Information

Director: Ducko Chan
Scriptwriter: Ducko Chan
Cast: Fina Phillipe, Ivanaldy Kabul, Nirina Zubir, Alena Wu, Joyln Hendrawan, Firman Liem, Freddy Su, Zemary Sahat
Running Time: 90 minutes
Release Date: 5 March 2015

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

AMIR SYARIF SIREGAR (Flick Magazine)

Ducko Chan sendiri cukup mampu memberikan pengarahan yang baik pada jajaran pengisi departemen akting film ini. Nama-nama pemeran seperti Fina Phillipe, Firman Liem dan Ivanaldy Kabul yang masih belum terdengar familiar mampu memberikan penampilan akting mereka yang meyakinkan. Silent Hero(es) juga mendapatkan penampilan yang sangat mengagumkan dari seorang Nirina Zubir. Penampilan Nirina sebagai Karina dalam film ini jelas merupakan salah satu penampilan terbaik yang pernah ia berikan dalam sebuah film Indonesia – tidak terlalu showy namun terus menerus meminta perhatian penonton pada karakter yang ia perankan. Rating: ★★1/2

BOBBY BATARA (All Film Magazine)

NA. Rating: ★★1/2

 

BLOGGERS REVIEW

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

Usaha menghadirkan film lokal berbahasa Mandarin untuk sebuah pertunjukan keberagaman seperti negara-negara tetangga patut dihargai. Sayangnya, banyak sekali sisi teknis dan penggarapan lain yang masih perlu dibenahi. Nirina Zubir bermain baik. Rating: ★★

DIAKSA ADHISTRA (Mokino)

Menonton film ini bisa membuka lebar mata kita kalau Indonesia itu punya keragaman yang banyak termasuk kebudayaan Tionghoa dengan Barongsai-nya. Effort untuk membuat film ini dengan bahasa Mandarin pun menjadi nilai plus di film ini. Menunjukkan bahwa ini adalah film Indonesia dengan kebudayaan yang beragam, pencampuran bahasa pun juga dilakukan lewat dialog yang ada di film ini, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah Sunda-Jawa Barat, bahkan bahasa Singlish pun digunakan di film ini. Sayangnya, script film ini sedikit lemah, banyak hal yang bertele-tele dipaksakkan menjadi cerita yang sebenarnya tidak perlu ditampilkan. Jadinya, penonton pun mungkin akan bingung, film ini arahnya mau dibawa ke mana? Inrik yang ditampilkan pun sedikit kurang bikin greget, hasilnya seakan-akan ‘ya udah gitu aja..’ tanpa akhir yang kurang jelas. Rating: ★★★

DJAY (So-Called Reviewer)

Film ini 95% memakai bahasa Mandarin sebagai pengantar dialognya. Bukan sebuah masalah, apalagi bisa menambah wawasan penonton. Namun, akan bermasalah saat para pemainnya malah lebih fokus berbahasa Mandarin secara fasih dan melupakan ikatan emosional dan feel mereka sebagai aktor. Dengan kedataran emosional itu, sepanjang film seperti flatline, bahkan sampai ending pun terkesan biasa. Tapi, saya harus memberikan point plus untuk film ini karena film ini dibuat tidak terlalu festival (biasanya film-film festival a la Indonesia adalah film bertema (sok) berat dan (sok) gelap). Mereka membuat Silet hero(es) seringan mungkin, secerah mungkin. Rating: ★★1/2

VINCENT JOSE (The Jose Movie Review)

SH memang masih jauh dari kata bagus. Namun mengingat semangat indie dan segala keterbatasannya, hasil akhir SH masih layak untuk diapresiasi. Toh, dengan mengesampingkan berbagai kekurangan dan keanehannya, SH juga masih cukup bisa dinikmati. Rating: ★★1/2

 

Last Updated: 18 March 2015


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response


(required)