Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Siti (2015)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


0
Posted December 12, 2015 by

 
Full Article
 
 

Siti-Poster

Critics Review: ★★★★ (4 reviews)
Film Bloggers Review: ★★★1/2 (15 reviews)

SYNOPSIS

Bercerita tentang kehidupan satu hari seorang perempuan bernama Siti, umur 24 tahun. Siti tinggal bersama ibu mertuanya, Darmi, 60 tahun, anaknya, Bagas, 7 tahun dan suaminya, Bagus, 25 tahun. Siti merawat Bagus, yang setahun lalu mengalami kecelakaan saat melaut mencari ikan mengakibatkan sebagian tubuhnya lumpuh. Selain menjual Peyek Jingking di Parangtritis, Siti bekerja sambilan sebagai pemandu karaoke.

Seperti biasa pada pagi hari Siti mengoreng dan menyiapkan dagangannya. Darmi, memberitahu Siti kalo Bagas, tidak mau sekolah karena di sekolah ada hantunya. Siti dibuat pusing oleh ulah Bagas. Siti akhirnya memaksa Bagas sekolah. Karyo, 45 tahun datang dan menagih hutang. Bagus, suami Siti pernah berhutang pada karyo untuk membeli kapal. Karyo memberi waktu Siti tiga hari untuk melunasi.

Pada Siang hari, Siti berjualan Peyek Jingking di Parangtritis bersama Darmi. Siti juga meluangkan waktu bermain bersama Bagas. Sri, 30 tahun teman Siti datang dan mengajak Siti untuk berdemo di kantor polisi. Awalnya Siti tidak mau ikut karena harus mencari uang untuk membayar hutang. Tetapi melihat sikap Bagus yang tidak mau lagi bicara semenjak Siti bekerja sambilan menjadi pemandu karaoke Siti akhirnya ikut berdemo dipimpin oleh Sarko, ketua Paguyuban Karaoke. Di kantor polisi Siti bertemu dengan Gatot, seorang polisi yang menyukai Siti sejak lama. Bahkan Gatot sudah ingin mengajak Siti menikah. Gatot meminta Sarko untuk membuka tempat karaoke karena ada seorang pengusaha yang ingin bernyanyi. Sarko dengan senang hati memenuhi permintaan Gatot.

 

The story tells about a one-day life of a woman, named Siti, 24 years old. She is a young mother who takes care of her mother-in-law, Darmi; her son, Bagas; and her husband, Bagus. Bagus had an accident when fishing a year ago resulted in his paralysis. His new boat purchased with borrowed money is lost at the sea. Siti then struggles to support them. In the situation of increasingly squeezed because of the crush of debt, Siti has to work day and night. At a day time, Siti sells Jingking crackers in Parangtritis. At night, she works as a karaoke guide. Because of her job as a karaoke guide, Bagus does not want to talk to Siti anymore. This situation makes Siti frustrated. Night life at karaoke makes Siti acquainted with a cop, named Gatot. Gatot loves her and wants to marry her. Siti is in hesitation. The pressures of life make her to choose her own happiness.

General Information

Director: Eddie Cahyono
Scriptwriter: Eddie Cahyono
Cast: Sekar Sari, Bintang Timur, Haydar Saliz, Ibnu Widodo, Titi Dibyo
Running Time: 88 minutes
Release Date: NA (limited release)

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

BOBBY BATARA (All Film Magazine)

NA. Rating: ★★★★

RANGGA ADITHIA (Flick Magazine)

Tiap adegan di Siti digulirkan begitu sederhana, dari gambar sampai ke obrolan-obrolan yang nantinya mengisi, memenuhi 90-an menit durasinya, menampilkan karakter-karakter yang membumi dan juga manusiawi. Seperti setting-nya yang apa adanya, dialog dan tuturnya pun disampaikan Eddie Cahyono tanpa terkesan “ditambal,” tidak ada drama yang dibuat-buat atau emosi yang dilebih-lebihkan. Makanya saya seperti tidak diseret-seret paksa untuk peduli pada nasib malang yang menimpa Siti, sebaliknya dibuat perlahan-lahan menghampiri. Rating: ★★★★

SHANDY GASELLA (Detik)

NA. Rating: ★★★★1/2

WAYAN DIANANTO (Tabloid Bintang)

NA. Rating: ★★★1/2

 

BLOGGERS REVIEW

AMIR SYARIF SIREGAR (Amir at the Movies)

Sederhana namun Siti berhasil disajikan dengan penceritaan yang begitu kuat dan penampilan Sekar Sari yang amat, sangat memikat. Rating: ★★★★

ARUL FITTRON (Arul’s Movie Review)

Eddie Cahyono masih berhasil memberikan alternatif tontonan yang unik dan sekaligus menarik untuk diteliti lebih dalam lagi. Sayangnya, di tengah temanya yang ingin mengangkat derajat kaum wanita sebagai kaum marjinal, Siti malah menjadi sebuah pesta patriarki dengan euforia yang besar di segala konfliknya. Juga, bagaimana dukungan segi teknis dengan tujuan memberikan estetika itu malah jatuh memberikan sebuah kehampaan di dalam filmnya. Maka sayang, Siti masih kurang matang. Rating: ★★★

CANDRA ADITYA (That Candra Aditya Kid)

Emosi yang terpendam adalah kata kunci Siti. Disajikan dengan hitam putih dan aspek rasio 4:3, Siti adalah drama yang keliatannya begitu tipikal. Kayak nge-retweet fakta bahwa film hitam putih harus sengsara dan merayakan kesusahan. Tapi sebenernya nggak. Siti justru sebuah potret yang amat jujur dengan peran gender dalam rumah tangga dan kehidupan sosial. Yang saking jujurnya ngebuat gue bete berat sama hampir semua karakter laki-laki dalam film ini. Rating: ★★★1/2

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

While having standout performance and, of course, panoramic arthouse visuals–but without any clear explanation to go B&W and 4:3 ratio–too bad Siti didn’t try once to avoid shallow feminism stigmas against cliche cups of economic struggle and man domination. Instead, the 88 minutes duration is filled with lots of obviously naughty fetishisms. In the slight same theme, Eddie and Ifa’s Cewek Saweran (2008) is way bolder to speak loud and strong about feminism and its choices. Rating: ★★★

DJAY (So-Called Reviewer)

Siti adalah contoh nyata bahwa ketragisan seseorang yang dibuat film akan lebih nyampe pesannya ketimbang film hura-hura sosialita. Dan setting Jogja menambah “kekhusyukan” film ini. Saya rasa kalau bukan Jogja tidak bakal semagis ini. Rating: ★★★1/2

DRAGONO HALIM (Be Noted)

Tanpa drama yang terlampau mewah, kisah Siti begitu “memesona”. Tak perlu kalimat-kalimat cantik, cerita ini begitu mudah diakrabi. Bahkan menjadi cukup asyik dengan dialog-dialog bahasa Jawa tutur yang berlimpah, serta detail-detail yang sejatinya remeh tapi begitu memikat tanpa menjadi distraksi. Sampai akhirnya perasaan penonton dibuat seperti air soda botolan, yang dikocok kemudian tumpah berhamburan tetapi hambar tanpa rasa, dengan adegan klimaks tak jauh dari akhir cerita. Rating: ★★★★

ELBERT REYNER (A Cinephile’s Diary)

Baik style/kisah hidup Siti tak pernah berhasil memikat saya sedikitpun. Format BW dan academy ratio-nya lebih banyak mengganggu daripada membantu. Rating: ★★1/2

HARIS FADLI PASARIBU (Tales from Motion Sickness)

NA Rating: ★★★★

INDANAVETTA PUTRI (Tyazism’s Journal)

Disorot dalam warna monokrom hitam dan putih, film yang naskahnya ditulis dan disutradarai oleh Eddie Cahyono ini punya kepahitan luar biasa dalam bercerita. Selain terasa begitu realistis, akting super keren dari Sekar Sari bakalan bikin lo meringis nyeri. Dengan begitu banyak masalah yang mendesak, Siti terlihat begitu tegar walau sinar matanya begitu nanar. Ia bagaikan sebuah granat, siap meledak begitu pemicunya dicabut. Rating: ★★★★★

PASKALIS DAMAR (Sinekdoks)

SITI is a love-letter to Parangtritis–beautiful but ironic gem. Makin dinikmati makin indah, tapi makin diresapi makin sesak.Dialognya sederhana tapi jujur, candid, uncensored, dan penuh makna. SITI is a moment when faith in film-making is restored. And you cannot tell if Sekar Sari is SITI or is playing Siti. Rating: ★★★★

RASYID HARRY (Movfreak)

Mungkin Siti tidak berhasil memaksimalkan adegan-adegan penuh kesunyiannya dengan keindahan bernama emosi tersirat, tapi film ini tetap sebuah sajian memuaskan dengan akting kuat, naskah penuh dialog mengesankan yang ringan tapi mengena, hingga berbagai aspek penuh kesederhanaan lain yang bersinergi dengan baik menjadi sebuah drama kehidupan tentang manusia (bukan hanya wanita) dan pertanyaan tentang eksistensinya. Rating: ★★★1/2

REINO EZRA ANRETI (Ajirenji Mindstream Reviews)

NA. Rating: ★★★1/2

TAUFIQUR RIZAL (CineTariz)

NA. Rating: ★★★1/2

TEGUH SANTOSO (Reviewsiana)

Alih-alih mengeksploitasi kemalangan hidup Siti, film ini mengajak kita memasuki kehidupan Siti apa adanya. Siti hadir dengan dialog-dialog natural dan dibawakan oleh para pendukungnya dengan pas, membuat kita sulit untuk tidak jatuh cinta dengan karakter yang ada di dalam film ini. Tak ada adegan dramatisasi berlebihan, Siti cukup menghadirkan gambar-gambar hitam putih, dengan keheningan dan juga musik yang menyayat untuk membuat penonton kegetiran Siti menjalani hidupnya. Rating: ★★★1/2

TIMOTIUS PRASSANTO (Sobekan Tiket Bioskop)

Kisah yang ditulis dan disutradarai oleh Eddie Cahyono ini memang sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan orang Indonesia sehari-hari. Apa yang dialami oleh Siti bisa jadi dialami oleh ratusan ibu-ibu rumah tangga yang hidup di bawah garis kemiskinan di seluruh Indonesia. Tetapi karena keberanian dan kejujuran film ini, yang membuat film Siti menjadi spesial–kalau bukan, terbaik. Rating: ★★★★

 

Last Updated: 10 February 2016


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response


(required)