Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Surat dari Praha (2016)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


0
Posted January 27, 2016 by

 
Full Article
 
 

SuratDariPraha-Poster

Critics Review: ★★★3/4 (12 reviews)
Film Bloggers Review: ★★★3/4 (15 reviews)

SYNOPSIS

Larasati (Julie Estelle) atas desakan keadaan terpaksa memenuhi wasiat ibunya, Sulastri (Widyawati Sofyan) untuk menghantarkan sebuah kotak dan sepucuk surat untuk Jaya (Tio Pakusadewo) di Praha.

Dibesarkan di tengah kehidupan keluarga yang tidak harmonis membuat hubungan Larasati dan ibunya tidak pernah benar-benar baik. Pertemuan dengan Jaya yang ternyata adalah mantan tunangan ibunya, seseorang yang gagal memenuhi janji untuk kembali puluhan tahun silam akibat perubahan situasi politik membuat Larasati mengetahui akar persoalan yang sebenarnya. Larasati menuding Jaya dan surat-surat yang pernah dikirimnya sebagai penyebab ketidakharmonisan keluarganya, situasi yang membawa akibat buruk bagi hidupnya. Jaya merasa tersudut dan terpaksa harus menjelaskan apa yang baginya telah ia ikhlaskan.

Cerita berkisah tentang kekuatan memaafkan dan upaya untuk berdamai dengan sisi gelap masa lalu. Terinspirasi dari kisah kehidupan para pelajar Indonesia di Praha yang tidak bisa kembali akibat perubahan situasi politik dalam negeri tahun 1966 dan dengan menjadikan karya musik Glenn Fredly sebagai salah satu elemen utama cerita.

Mampukah Jaya menjalani sisa hidupnya tanpa rasa bersalah dan apakah Larasati mampu kembali percaya bahwa cinta sejati itu ada?

General Information

Director: Angga Dwimas Sasongko
Scriptwriter: M. Irfan Ramli
Cast: Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Widyawati, Rio Dewanto
Running Time: 93 minutes
Release Date: 28 January 2016

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

ABBAS ADITYA (KapanLagi)

NA. Rating: ★★★1/2

ANDRI CAHYADI (Cinemags)

NA. Rating: ★★★3/4

ANGGY HERNOWO (Liputan6)

NA. Rating: ★★★★

BOBBY BATARA (All Film Magazine)

Sebuah persembahan militansi kedai Filosofi Kopi yang menyimpan hidden story. Rating: ★★★★1/2

LISA SIREGAR (The Jakarta Globe)

NA. Rating: ★★★1/2

NANIEN YUNIAR (ANTARA News)

NA. Rating: ★★★

RANGGA ADITHIA (Flick Magazine)

Penyutradaraan Angga memang istimewa, tuturnya tak kemana-mana, walaupun ia bicara politik tapi tak terkesan “teriak-teriak” yang justru malah menutupi apa yang sejak awal ingin disampaikan. Obrolan politik dan sejarah kelam hanya bagian dari cerita si Jaya, cerita yang tak lengkap, toh Jaya sendiri sudah melupakan, dia sudah ikhlas. Semua terungkit lagi karena Laras tiba-tiba muncul di kehidupannya. Saat bicara cinta, Surat dari Praha pun tidak “bawel”, terkadang dilagukan, sesekali diwakili dentingan piano, atau hanya tatapan dan raut wajah yang apa adanya. Tetapi kita tahu, Surat dari Praha dengan bahasanya yang sederhana sedang ingin utarakan cinta. Rating: ★★★★

REINO EZRA ANRETI (Muvila)

Film Surat dari Praha ini pun jadi istimewa karena isu berat dan penting itu kali ini dikemas dalam lingkup yang kecil, hanya melibatkan tokoh yang jumlahnya sedikit, namun tetap dengan intensitas dan emosi yang berdampak. Didukung lagi dengan penataan visual yang rapi dan berkelas, Surat dari Praha adalah sebuah contoh karya yang menunjukkan kualitas dan kreativitas yang mampu menjangkau kalangan luas tanpa harus sekadar ikut tren, dan inilah yang perlu dilakukan lebih sering di perfilman Indonesia. Rating: ★★★★

SHANDY GASELLA (Detik)

Setelah Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Surat dari Praha adalah film karya Angga yang paling mature, dan merupakan film terbaiknya sejauh ini. Rating: ★★★★

SHINDU ALPITO (Metrotvnews.com)

NA. Rating: ★★★★

THOMAS MANGGALA (Koran Sindo)

NA. Rating: ★★★★

WAYAN DIANANTO (Tabloid Bintang)

NA. Rating: ★★★1/2

 

BLOGGER REVIEW

AMIR SYARIF SIREGAR (Amir at the Movies)

Surat dari Praha is another win for Angga Dwimas Sasongko who, by now, should be regarded as one of Indonesia’s most respected directors. Rating: ★★★1/2

ARUL FITTRON (Arul’s Movie Review)

Surat dari Praha adalah catatan dan resahan-resahan kecil dari para eksil yang butuh pengakuan. Dan Angga Sasongko merangkum resahannya dalam sebuah surat cinta yang indah dengan iringan emosi yang kuat dan lantunan nada-nada indah. Dan kesan pretensius itu berhasil dibuang oleh Angga Sasongko dan menyajikan Surat dari Praha begitu mudah diakses setiap kalangan. Pencapaian tertinggi oleh Angga Sasongko dan salah satu yang terbaik tahun ini. Rating: ★★★★1/2

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

Sebuah paduan drama romansa, both a beautiful love letter or love poem yang penuh luka yang menyayat di balik traumatic ideas soal sejarah gelap politik–tetap vokal dengan bisikan, bukan harus lantang berteriak, yang dibalut sempurna dengan penerjemahan musik yang begitu menyatu dalam penceritaan yang begitu sulit membuat kita tak jatuh cinta hingga memandangnya jadi sempurna. Mungkin ia hanya sonata, tapi kekuatannya menyentuh rasa, luar biasa. Rating: ★★★★★

DIAKSA ADHISTRA (Mokino)

Film ini beautifully brilliant! Semua unsur bagus dari cerita, acting, script, sinematografi, sampai chemistry semua pemainnya. Ditambah lagu-lagu karangan Glenn Fredly yang dinyanyikan sama Julie Estelle dan Tio Pakusadewo yang pas banget sama filmnya. Rating: ★★★★1/2

DJAY (So-Called Reviewer)

Well, it’s hard to not fall in love with Surat dari Praha. The movie was too beautiful. Even the chemistry is not as flawless as I expected, but Julie and Tio can be paired with good acts. And yes, Angga did a great job (again) bringing a wonderful picture, story, and music in one package. Rating: ★★★★

ELBERT REYNER (A Cinephile’s Diary)

Lewat sajian Surat dari Praha yang begitu mengesankan, Angga Sasongko kembali membuktikan bahwa dia adalah salah satu sutradara terbaik di Indonesia. Rating: ★★★

HARY SUSANTO (Movienthusiast)

Surat dari Praha adalah sajian romantisme dan sebuah studi karakter yang kuat dengan segala dukungan musikalitas yang indah sekaligus membuktikan kapasitas dan kosistensi seorang Angga Dwimas Sasongko dalam melahirkan karya-karya Indonesia bermutu. Rating: ★★★★

JOSEP ALEXANDER (Postingan Biasa)

Dialog, akting, dan emosi Julie Estelle dan Tio Pakusadweo membuat saya harus jatuh cinta dengan film Surat dari Praha. Nikmati juga keindahan musik dan sisi pemandangan Praha yang tidak biasa diberikan film ini. Rating: ★★★★

ODAGOMA RHEINHARD (Layar Tancep)

Sebuah upaya yang diarahkan dengan segenap perasaan oleh Angga dan dituliskan dengan baik oleh M. Irfan Ramli (Cahaya dari Timur). Keberhasilannya dalam bertutur kemudian disempurnakan oleh visual dan musik yang menakjubkan. Praha telah menjadi latar yang romantis sekaligus sunyi untuk cerita yang dituturkan di dalamnya. Dan musik yang dipersembahkan oleh Glenn Fredly, sekaligus merayakan 20 tahun masa berkaryanya, telah menjadi persembahan yang sangat dapat dikenang sampai kapan pun. Persembahan yang dilantunkan oleh Julie Estelle dan Tio Pakusadewo bersama piano dan harmonikanya dengan sangat indah. Surat dari Praha adalah cerita tentang politik, cinta, dan kenangan-kenangan tersimpan yang sangat mudah dicintai. Rating: ★★★★

RASYID HARRY (Movfreak)

Ditemani iringan lagu yang tak hanya terdengar indah, namun bersatu padu mencipta keselarasan, Surat dari Praha bagai ballad yang mengalun perlahan menyentuh rasa, memunculkan haru dan cinta dengan begitu indah.  Rating: ★★★★1/2

TAUFIQUR RIZAL (CineTariz)

Kekuatan Surat Dari Praha tak semata-mata bersumber dari jajaran pemain. Karya terbaik dari Angga Dwimas Sasongko sejauh ini (ya, bahkan lebih bagus ketimbang Hari Untuk Amanda dan Cahaya Dari Timur: Beta Maluku yang memukau itu, setidaknya bagi saya) juga unggul dari sisi pengisahan yang begitu mencengkram erat pula jitu menyisipkan elemen sejarah pada platonic love story-nya, lalu penataan gambar yang menawan dengan latar sudut-sudut Praha mampu berbicara banyak daripada hanya sekadar dimanfaatkan sebagai penghias, dan tentunya, sumbangan lagu-lagu kepunyaan Glenn Fredly–seperti Sabda Rindu, Untuk Sebuah Nama, Menanti Arah, dan Nyali Terakhir–yang penempatannya tepat sasaran sehingga meniupkan jiwa bagi film. Rating: ★★★★

TEGUH SANTOSO (Reviewsiana)

Dalam upaya menjadikannya dalam satu cerita, Surat dari Praha mulus mengisahkan kisah cinta, tapi nilai minus dalam mengisahkan sejarah dan politik. Penampilan gemilang Tio Pakusadewo – Julie Estelle – Widyawati berhasil menghidupkan kisah cinta. Masalah mulai muncul saat Surat dari Praha berbicara politik, yang serasa tampil tak lengkap. Berbagai iklan malah makin mengaburkan setting waktu Surat dari Praha. Lagu-lagu Glenn Fredly memang menambah kesempurnaan romantisme Surat dari Praha. Tetapi, menjadikan lagu Sabda Rindu sebagai lagu yang diciptakan tahun 1972 makin mengaburkan setting waktu. Rating: ★★1/2

TIMOTIUS PRASSANTO (Sobekan Tiket Bioskop)

Surat dari Praha adalah sebuah film Indonesia yang dibuat dengan sangat baik dan rapi, melewati riset yang hati-hati dan menyeluruh, dan menghasilkan sebuah sajian hiburan yang kaya akan cerita. Bisa dibilang, film ini cukup cerdas untuk mengangkat tema sejarah dan politik yang dibalut dengan kisah cinta platonik tanpa mengenal batasan usia. Dibungkus dengan bahasa visual yang artistik, dan diiringi oleh lagu-lagu melankolis serta romantis dari Glenn Fredly. Rating: ★★★1/2

VINCENT JOSE (The Jose Movie Review)

Nonton Surat dari Praha itu kayak lagi solo travelling, dengerin serenade dalam benak, observing around, contemplating. Captivating! Hypnotizing! Rating: ★★★★

YOHAN ARIE (MovSic)

Surat dari Praha saya kira bakal seperti film-film Indonesia lain yang memberikan nama tempat (luar negeri) di judul filmnya. Untunglah Surat dari Praha tidak terjebak di lingkaran yang sama. Dalam Surat dari Praha ada cerita tentang masa lalu yang tak pernah sempat menerima jawaban. Tio Pakusadewo sekali lagi membuktikan bahwa dia hebat. Julie Estelle ga mengecewakan. Paling suka dengan sinematografinya. Komposisi tertata rapi. Tak ada gerak kamera berlebih. Coloring pun jauh dari kata lebay. Musik? Okelah. Meski di beberapa scene film terlihat jadi musikal yang nanggung. Tapi tidak mengurangi dari apa yang ingin disampaikan. Rating: ★★★

 

Last Updated: 10 February 2016


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response


(required)