Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

ToBa Dreams (2015)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


1
Posted April 17, 2015 by

 
Full Article
 
 

TobaDreams-Poster

Critics Review: ★★★1/2 (4 reviews)
Film Bloggers Review: ★★★1/2 (9 reviews)

SYNOPSIS

Berkisah tentang cinta yang kadang tersesat dalam menemukan kebenaran. Sersan Tebe mendidik anak-anaknya seperti pasukan tempur. Ketika Ronggur, anak sulungnya, memberontak, terjadilah konflik mendalam antara keduanya.

Sersan Tebe mengandalkan pensiunan tentara dan memilih pulang kampung. Ronggur menolak hidup apa adanya. Ia ingin membuktikan bahwa ayahnya salah. Dengan penuh siasat, Ronggur menjelma menjadi bos mafia narkoba dan merebut Andini dari yang berasal dari keluarga ningrat. Beruntung ada Kristin, ibunda Ronggur, yang menjadi jembatan antara Sersan Tebe dan Ronggur.

 

A story about love that sometimes gets lost in finding the truth. Sergeant Tebe educated his children like combat troops. When his eldest son, Ronggur, rebels against him, a deep conflict emerges between them.

Sergeant Tebe relies on his army pension and chose to return to his hometown. Ronggur refuses to live life as it is. He wants to prove that his father is wrong. Using a strategy, Ronggur turns himself into a drug kingpin and took Andini away from her patrician family. Luckily, there is Kristin, Ronggur’s mother, that becomes the bridge between Sergeant Tebe and his son.

General Information

Director: Benni Setiawan
Scriptwriter: Benni Setiawan, TB Silalahi
Cast: Vino G Bastian, Mathias Muchus, Marsha Timothy
Running Time: 144 minutes
Release Date: 30 April 2015

Full Cast and Crew

Not available.

 

CRITICS REVIEW

AMIR SYARIF SIREGAR (Flick Magazine)

Meskipun masih memiliki beberapa bagian cerita yang terasa lemah, Benni Setiawan masih mampu mengemas Toba Dreams menjadi sebuah sajian drama keluarga yang begitu kuat dan emosional – dan sekaligus menjadikan film ini sebagai film arahannya dengan kualitas keseluruhan yang paling memuaskan hingga saat ini. Rating: ★★★1/2

BOBBY BATARA (All Film Magazine)

Kendati berlatar budaya Batak, masalah yang dituturkan ternyata universal. Terutama, filmnya mengajak kita untuk semakin mencintai keluarga. (taken from print edition #66) Rating: ★★★★

SHANDY GASELLA (Detik)

Sutradara Benni Setiawan (‘Madre’, ‘Bukan Cinta Biasa’) yang sekaligus menulis skrip film ini berdasarkan novel berjudul sama karya TB Silalahi berhasil menerjemahkan materi novel ke dalam bahasa film dengan cara-cara yang selama ini belum pernah ia capai sebelumnya. Ini lompatan jauh yang dicapai Benny selepas kali terakhir membesut ‘Love and Faith’ dan ‘Sepatu Dahlan’ yang secara kualitas amat mengecewakan itu. Melalui ‘Toba Dreams’ Benny mendapatkan kembali reputasinya sebagai salah seorang sutradara yang mumpuni di Tanah Air. Rating: ★★★

WAYAN DIANANTO (Tabloid Bintang)

Benni Setiawan salah satu seniman yang diakui kredibilitasnya dalam menulis naskah maupun menyutradarai film. Meski belakangan, naskahnya cenderung datar dan melenakan. Benni kembali membuktikan keandalannya dalam menulis lewat ToBa Dreams. Selera humornya menyenangkan. Cara menata konfliknya terasa padat dan memancing simpati. Rating: ★★★1/2

 

BLOGGERS REVIEW

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

Memuat begitu banyak gagasan yang ada dalam novel berikut ambisi T.B. untuk mengetengahkan pesan moral kuat atas banyak aspek, Benni Setiawan untungnya bisa menampung semua itu lewat pencapaian storytelling yang sudah cukup lama hilang dari karya-karyanya sejak ‘3 Hati 2 Dunia 1 Cinta’. Skripnya bisa jadi tak sempurna menyusun kisah yang meski klise namun kompleks dalam rentang timeline cukup melebar, namun karakter-karakter yang bergantian menjadi fokusnya tetap terbangun dengan baik dibalik penekanan budaya dan latar prinsip-prinsip militer secara kental bersama dialog-dialog penuh punchlines dan tampilan emosi campur aduk dalam pengadeganan sama kuat. Rating: ★★★1/2

DJAY (So-Called Reviewer)

Secara keseluruhan, ToBa Dreams mencapai ekspektasi yang saya harapkan, drama keluarga yang cemerlang dengan kualitas akting, penulisan skenario, dan scoring yang di atas rata-rata. Dengan poster film yang ala kadarnya, film ini mampu menutupi kesangsian saya saat pertama kali melihat poster filmnya. Rating: ★★★

HARIS FADLI PASARIBU (Tales from Motion Sickness)

Walaupun durasi agak kepanjangan dan ada beberapa adegan yang sebenarnya bisa ditrim, tapi ‘Toba Dreams’ seru buat ditonton. Materi cerita yang cukup kompleks disampaikan dengan mulus sehingga pesan cerita dapat disampaikan dengan baik dan mudah dicerna. Penggarapan Benny Setiawan juga naik kelas banget. Secara teknis filmnya terasa sangat sinematis dan ‘mahal’. Pas jadi tontonan layar lebar. Sedang dari segi akting juga gak usah diragukan lagi. Semua pemain utama tampil all out. Masalah cuma di segi aksen yang agak kurang pas.Dipastikan kalau ‘Toba Dreams’ adalah salah satu film Indonesia terbaik tahun ini. Sayang kalau dilewatkan. Rating: ★★★1/2

JOSEP ALEXANDER (Postingan Biasa)

NA. Rating: ★★★

RANGGA ADITHIA (Raditherapy)

Walaupun plot “Toba Dreams” serasa penuh sesak dengan banyaknya hal yang ingin diceritakan, mulai dari konflik Ronggur dan Bapaknya, kisah romansa yang pelik antara Ronggur dan kekasihnya, hingga nantinya kita diseret masuk untuk melihat Ronggur menggapai ambisinya. Dengan durasi sekitar 140-an menit, kita tidak seperti orang yang ditodong pistol di kepala dan dipaksa duduk hingga film selesai, karena untungnya Benni masih mampu membagi porsi ceritanya sesuai dengan prioritas, mana yang harus didahulukan dan mana yang tak perlu cerita panjang lebar. Gaya Benni dalam bercerita inilah yang nantinya membuat “Toba Dreams” begitu menyenangkan tanpa saya merasakan bosan sedikitpun. Diakui, Benni kali ini mampu memaksimalkan tidak hanya dalam urusan esekusi cerita dari materi yang lebih solid, tapi juga mengarahkan para pemainnya untuk main sebagus-bagusnya. Rating: ★★★★

RASYID HARRY (Movfreak)

Lampu bioskop menyala tapi air mata saya dan banyak penonton lain masih mengalir. Itu bukan tangisan hasil “manipulasi” adegan menyedihkan, tapi karena kita tahu rasanya mengecewakan orang tua, jatuh saat menggapai mimpi, dan mencintai serta dicintai orang-orang terkasih. Toba Dreams memang senyata, sekuat dan seindah itu. Rating: ★★★★

REINO EZRA ANRETI (Ajirenji Mindstream Review)

Yang gw lihat di Toba Dreams adalah sebuah sajian cerita yang punya materi potensial tetapi hanya sampai selangkah di bawah batas maksimalnya. Almost there, but not yet. Komplain pertama gw adalah film ini mulai masuk salah satu babak cerita yang sangat penting, yaitu tentang si Ronggur (Vino G. Bastian) masuk mafia, itu satu jam setelah filmnya berjalan. Satu jam! Satu jam pertama? Well, yang gw inget cuma bertengkar, bertengkar, bertengkar, dan kepeleset di sawah. Dan yang mungkin lebih membuat gw agak kurang bisa terima adalah film ini menyianyiakan potensi dari crime drama-nya, porsi ini hanya kebagian montase. Padahal, penataan adegan crime-nya cukup apik, mengusung tema yang besar, dan filmnya sendiri diakhiri dengan unsur itu juga. Mungkin ini supaya memberi ruang bagi porsi melodramanya, yang nyatanya memang disajikan jauh lebih banyak. Mungkin supaya filmnya bisa ditonton keluarga dengan less violence. Iya deh. Tapi ya gw merasa film ini jadi mengecilkan hal-hal besar, dan membesar-besarkan hal-hal kecil. Rating: ★★1/2

TAUFIQUR RIZAL (CineTariz)

Untungnya, meski beberapa sempalan konflik ada yang masih terasa kurang matang, Benni berhasil menggulirkan penceritaan secara lancar di sini. Malah, Toba Dreams bisa dikatakan sebagai karyanya paling memuaskan selain 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Caranya dalam mempermainkan emosi penonton sepanjang durasi mengalun tidak main-main. Berulang kali hati ini dibuat teriris-iris dan mata berkaca-kaca, terlebih di klimaks yang memunculkan hentakan kuat dengan iringan tembang mendayu-dayu “Dang Marna Mubaho.” Memberikan definisi yang tepat untuk kata heartbreaking. Rating: ★★★★

VINCENT JOSE (The Jose Movie Review)

Selain penceritaan Benni dan TB yang mulus, kenikmatan mengikuti TD terletak pada kekuatan para aktornya. Terutama sekali Vino G. Bastian yang meski masih memerankan karakter tipikalnya, namun sekali ini berhasil menyentuh titik emosi yang belum pernah dicapainya sendiri sebelumnya. Begitu juga ketika menjalin chemistry dengan istrinya sendiri, Marsha Timothy yang juga semakin terasah emosinya tanpa harus over-dramatic. Chemistry father-and-son antara Vino dan Mathias Muchus juga patut mendapatkan kredit lebih. Meski emosi satu sama lain sudah tertuang dalam dialog, namun ekspresi wajah mereka memberikan kedalaman yang lebih. Rating: ★★★★

 

Last Updated: 15 July 2015


One Comment


  1.  
    P. Mahpudin

    Gile, film ini menurut saya amazing banget, terus terang ini film favorite saya setelah Tenggelamnya Kapal Van Derwijk, film ini dikemas secara apik ditambah akting para pemain yang tidak perlu diragukan lagi, seperti Mathias Muchus,Vino G Bastian dan Marsha Timothi, drama novel yang digarap sang sutradara Benny Setiawan ini menjadi sangat hidup dan menyentuh kesadaran penonton terhadap realitas sosial yang selalu ada sepanjang jaman, konflik dalam pertarungan batin, konflik keluarga, dan konflik sosial. Tentunya keberhasilan film ini juga tidak terlepas dari garapan sinematografinya yang baik.





Leave a Response


(required)