0
Posted August 30, 2015 by admin in News
 
 

Kronologi Kisruh Belakang Layar Film Fantastic Four


Tahun ini adalah saat yang kelam bagi Twentieth Century Fox, karena orang-orang pergi ke bioskop menonton Fantastic Four (2015) bukan untuk mencari hiburan, tapi untuk mencari tahu sendiri seburuk apa kualitas film superhero ini.

Tidak seperti dalam film, setelah sekian lama didera publikasi negatif, tidak ada twist di akhir perjalanan bagi Fox. Ini adalah dunia nyata, dan bisnis film kadang bisa begitu kejam. Tak hanya digempur oleh ulasan-ulasan sengit oleh kritikus (skor Rotten Tomatoes-nya saat ini 8%), film ini juga ditinggal oleh penontonnya dengan angka debut hanya 25,7 juta dolar di Amerika Serikat, ditambah penilaian CinemaScore terendah sepanjang sejarah untuk film superhero keluaran studio (C- saja). Tidak ada ampun bagi Fantastic Four. Film ini memang tidak ditakdirkan untuk selamat sejak awal.

Untuk merunut kisruh yang terjadi dalam pembuatan film berbujet 122 juta dolar ini, kita harus kembali ke tahun 2009. Di bulan Maret 2009, rumor bahwa Fantastic Four akan dibuat ulang pertama kali berhembus. Seperti Spider-Man yang terus di-reboot, Fox harus menghasilkan film baru Fantastic Four untuk mempertahankan hak atas filmnya agar tidak diambil kembali oleh Marvel.

Di akhir Agustus 2009, berita konkret pertama baru muncul di Variety ketika Akiva Goldsman ditunjuk sebagai produsernya, sementara Michael Green didapuk menjadi penulis naskah filmnya.

Di tahun 2010, nama-nama yang digosipkan akan menjadi pemeran baru Fantastic Four mulai mengemuka. Ada Jonathan Rhys Meyers dan Adrien Brody yang rumornya akan jadi Reed Richards, Bruce Willis dan Kiefer Sutherland sebagai Ben Grimm, Kevin Pennington sebagai Johnny Storm, serta Alice Eve dan Amber Heard yang akan menjadi Sue Storm.

Tapi, semua nama ini hanya numpang lewat saja, karena berita yang substansial mengenai Fantastic Four baru benar-benar terlihat setelah Josh Trank bergabung dengan proyek ini di tahun 2012.

Awal Baru dengan Sang Sutradara Muda

Bulan Januari 2012, Fox yang percaya diri dengan rilis film found footage Chronicle sempat menyinggung bahwa mereka ingin Trank bergabung dengan proyek ini. Di bulan Juli, CEO Fox, Tom Rothman, mengkonfirmasi bahwa Trank memang terlibat dalam pengembangan reboot Fantastic Four, meski tidak menjelaskan dalam kapasitas apa.

Bersamaan dengan momen San Diego Comic-Con, Deadline akhirnya mengumumkan bahwa Trank telah resmi terpilih sebagai sutradara. Setelahnya, Fox pun mengumumkan bahwa Jeremy Slater akan menulis naskahnya.

Awal tahun 2013, Mark Millar menulis di Twitter bahwa Matthew Vaughn akan menjadi produser film reboot ini. Sementara itu, di bulan Oktober 2013, The Hollywood Reporter melaporkan bahwa rekannya dari franchise X-Men, Simon Kinberg, turut bergabung sebagai produser dan penulis naskah. Dengan nama-nama tersebut di belakang layar, penonton pun mulai punya harapan bahwa Fantastic Four akhirnya akan menyajikan kisah segar yang berkualitas lebih baik dari pendahulunya. Tapi, harapan tinggal harapan, karena di tahap berikutnya, proyek reboot Fantastic Four mulai terlihat goyah.

Proyek yang Dimulai dengan Api

Dari kelima pemeran utama Fantastic Four, Michael B. Jordan adalah nama pertama yang menjadi pembicaraan ketika di bulan Februari 2013, The Wrap melaporkan bahwa sang aktor sedang menjalani pertemuan dengan Fox terkait film ini. Yang membuat gosip ini bertambah panas adalah karena ia kabarnya akan berperan sebagai Johnny Storm alias Human Torch.

Respon penonton terbelah. Di satu sisi, munculnya karakter dalam komik superhero berkulit putih yang kemudian diperankan oleh aktor Afrika-Amerika bukan hal baru. Tapi, sebagian penggemar Fantastic Four tidak rela kalau cerita Johnny Storm diubah dengan sembarangan. Sisanya, adalah mereka yang berkomentar rasis.

Jordan yang cuek sama sekali tidak gentar dengan teriakan protes orang-orang, dan proyek film ini pun tetap berjalan. Setelah masa casting yang panjang, di bulan Februari 2014, Fox akhirnya mengumumkan keempat pemeran utama film ini: Miles Teller (Reed Richards), Kate Mara (Sue Storm), Michael B. Jordan (Johnny Storm), serta Jamie Bell (Ben Grimm).

Tanda Pertama Masalah

Hanya dua bulan sebelum syuting dimulai, tanda-tanda bahaya pun mulai menyala, ketika di bulan Maret 2014, Bleeding Cool melaporkan bahwa Fox yang tidak puas dengan tahap persiapan produksi mereka sedang mempertimbangkan untuk memecat Josh Trank dan Simon Kinberg, sekaligus menulis ulang naskah filmnya. Fox membantah berita ini dan mengkonfirmasi bahwa Trank sudah ada di set untuk persiapan syuting.

Mei 2014, syuting dimulai di Baton Rouge, Louisiana. Selama dua bulan, pemberitaan negatifnya pun mereda, sampai Juli 2014 saat wawancara Kate Mara dengan majalah Esquire Amerika Latin dipublikasikan. Dalam artikel tersebut, ada kutipan yang menyatakan bahwa Trank tidak menyarankan pemerannya untuk membaca komik Fantastic Four karena plotnya tidak akan dibuat berdasarkan sejarah atau apapun yang pernah diterbitkan.

Setelah hal ini ramai diberitakan, perwakilan dari sang aktris sampai harus mengklarifikasi kalau yang dimaksud Mara adalah kisahnya tidak akan diambil dari sebuah plot spesifik dari komiknya, tetapi dari keseluruhan cerita. Meski demikian, kecurigaan penonton sudah terlanjur menguat.

Sebelum dan selama masa syuting di Louisiana dianggap sebagai periode tergelap proyek film Fantastic Four. Mulai di titik ini, rumor tak enak makin merebak, meski banyak yang tidak diberitakan dan hanya jadi sekadar bisik-bisik saja karena tak ada bukti yang kuat.

Ketika di tahun 2014 Fox tidak menjadwalkan Fantastic Four untuk hadir di San Diego Comic-Con, sudah jelas bahwa mereka memang menyembunyikan sesuatu. Tak lazim bagi proyek sebesar ini untuk absen di SDCC, apalagi mereka sudah memasuki masa syuting, yang berarti Fox pasti punya footage yang dapat ditunjukkan ke pengunjung. Kinberg beralasan bahwa mereka tidak ingin menunjukkan apa-apa karena belum punya bahan yang siap, dan tak ingin tampil dengan presentasi setengah matang. Untuk sementara, ini cukup untuk menghalau kecurigaan publik. Syuting pun akhirnya selesai di bulan Agustus 2014 yang ditandai dengan tweet hangat dari para pemainnya.

 

Hanya sebulan setelahnya, Fox memutuskan untuk memindahkan tanggal rilis Fantastic Four dari 16 Juni ke 7 Agustus 2015. Bulan Agustus dianggap relatif lebih sepi, dan mengisyaratkan bahwa Fox tidak percaya diri berada di deretan film-film bulan Juni. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga mereka mengambil langkah ini?

Potongan Teka-Teki Mulai Tersusun

Penonton sudah mulai gusar sejak Michael B. Jordan dipilih sebagai Johnny Storm karena tak sesuai dengan komiknya. Tapi, tidak ada yang sadar betapa radikalnya pendekatan yang dilakukan Trank terhadap kisah Fantastic Four sampai Toby Kebbell tanpa sengaja bicara mengenai karakter Doctor Doom yang diperankannya saat wawancara dengan Collider di bulan November 2014.

“Ia adalah Victor Domashev, bukan Victor Von Doom di cerita kami. Dan saya yakin saya akan dihukum karena mengatakan ini pada Anda. Doom yang ada di film kami – saya adalah seorang programmer. Programmer yang sangat antisosial. Dan di situs-situs blogging, nama saya adalah ‘Doom.’”

Dalam hasil akhir filmnya, Fox sudah menghapus semua jejak bahwa Victor Domashev pernah ada, dan kembali ke nama Victor Von Doom untuk meredakan amarah publik. Tapi semua sudah terlambat.

Di titik ini, bendungan yang dibangun Fox melalui sanggahan, koreksi, dan janji manis telah jebol. Yang awalnya masih berupa kecemasan kini berubah total menjadi mimpi buruk panjang karena mulai akhir 2014 sampai akhirnya film ini dirilis, praktis hanya pembicaraan negatif saja yang bisa didengar mengenai Fantastic Four.

Tak lama berselang, berita mengenai masa syuting Fantastic Four yang penuh masalah mulai bocor sedikit demi sedikit. JoBlo merujuk pada komentar di sebuah forum di mana seorang pengguna dengan nama “stegs_81” mengungkapkan sedikit informasi mengenai perilaku Trank yang aneh di set.

“Salah satu teman saya merupakan bagian dari kru. Trank muncul di set sangat terlambat atau sangat teler, hampir setiap hari dia tak mampu berbicara. Kadang-kadang ia sama sekali tidak muncul. Ia memperlakukan krunya dengan buruk. Ia menghancurkan rumah yang disewakan oleh perusahaan produksi untuknya. Dari yang saya dengar, ia mengakibatkan kerugian beberapa ratus ribu dolar.”

Meski informasi dari sumber anonim di forum sangat tidak bisa diandalkan, hal ini membuka pembicaraan mengenai semua rumor tentang kelakuan jelek Trank untuk mulai menyeruak ke permukaan.

Situs Bleeding Cool lagi-lagi datang dengan kabar buruk. Kali ini, Fox kembali tidak puas dengan hasil syuting Fantastic Four dan melihatnya lebih seperti Chronicle 2 daripada film yang mereka ingin buat. Seorang eksekutif senior mengatakan bahwa film tersebut “berantakan.” Syuting ulang pun segera direncanakan, dan set di Louisiana akan kembali dibangun dengan dana jutaan dolar.

Kinberg mengabari situs Latino Review bahwa syuting ulang hanya mencakup adegan tambahan dan hanya akan berlangsung 3 sampai 4 hari. Tapi, Bleeding Cool mendapat kabar tambahan bahwa syuting ulang ternyata sudah berlangsung sebelum klarifikasi ini, dan ternyata makan waktu lebih lama dari yang mereka perkirakan. Seberapa besar perubahan cerita yang sebenarnya direncanakan oleh Fox?

Di akhir Januari 2015, spekulasi berhenti untuk sementara karena trailer film ini akhirnya dirilis. Responnya pun tidak terlalu buruk. Menjanjikan kisah yang lebih kental ke arah fiksi ilmiah, trailer ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Fantastic Four akan berakhir sebagai bencana.

Kehilangan Proyek Star Wars

Babak baru pemberitaan yang makin miring mengenai Josh Trank dimulai ketika dirinya secara misterius menghilang dari acara Star Wars Celebration di Anaheim bulan April 2015. Trank yang merupakan sutradara dari salah satu film antologi Star Wars tidak hadir dalam acara penting ini tanpa ada penjelasan. Setelahnya, Trank baru menuliskan di Twitter bahwa dirinya mengalami flu sehingga tidak bisa datang.

Di bulan Mei, kecurigaan bahwa ada yang tidak beres terbukti ketika Trank ternyata memang keluar dari proyek Star Wars. The Hollywood Reporter menerbitkan laporan mengenai bagaimana Trank bisa kehilangan proyek sebesar ini. Dan benar, salah satu penyebab utamanya adalah kekacauan yang dibuatnya di set Fantastic Four.

Kabarnya, Kinberg yang merupakan salah seorang produser di film antologi Star Wars bicara pada para eksekutif Lucasfilm mengenai kelakukan Trank. Ia juga menyatakan keengganannya untuk bekerja lagi dengan sang sutradara. Maka dari itu, Trank diminta untuk tidak hadir pada panel presentasi Star Wars dan setelahnya diberhentikan dari proyek tersebut.

Dalam artikel ini, disebutkan juga bahwa Trank disebut sebagai sosok yang “labil,” “sangat suka menyendiri,” dan “seperti salah satu dari pemuda-pemuda yang datang ke NBA dengan bakat hebat tapi tidak punya kemampuan karakter untuk menanganinya. Ada kemampuan yang ia belum punya.”

Di luar persoalan syuting, Trank pun bermasalah dengan para pemeran filmnya sendiri. Meski bertahan memperjuangkan Miles Teller sebagai Reed Richards dan akhirnya menang, hubungannya dengan sang aktor belakangan kurang baik. Yang lebih parah adalah rumor mengenai sikap Trank yang dingin dan kejam pada Kate Mara, karena Fox bersikeras sang aktris harus memerankan Sue Storm.

Belum lagi, cara Trank menangani aktor dan aktrisnya yang mengundang banyak tanda tanya. Merasa bahwa akting Teller, Jordan, Mara, dan Bell agak menurun dari kualitas biasanya? Mungkin ini penyebabnya. “Saat take, ia akan bilang [ke pemerannya] kapan harus berkedip dan kapan harus bernapas. Ia terus mendorong mereka untuk membuat penampilan yang sedatar mungkin,” kata salah satu sumber yang dikutip The Hollywood Reporter.

Setelahnya, mudah sekali untuk menyalahkan hancurnya Fantastic Four karena ulah sang sutradara. Apalagi, syuting ulang tak selalu berakhir dengan buruk, contohnya film World War Z (2013) yang ternyata sukses. Kisruh belakang layar juga tak selalu berakhir dengan sebuah film yang buruk. Naskah dan visi yang kuat masih bisa menyelamatkannya. Tapi, apakah Fantastic Four memiliki itu?

Dalam usaha untuk meredam negativitas yang menyelubungi film ini, Fox mengkoordinasikan embargo ulasan filmnya sampai dua hari sebelum filmnya rilis. Ini merupakan pertahanan terakhir yang sia-sia, karena begitu gerbang dibuka, ulasan buruk yang bertubi-tubi tak lagi dapat dibendung.

Di awal bulan ini, keempat pemerannya mencoba untuk membela filmnya dengan mengatakan bahwa film sebesar Fantastic Four jarang disukai kritikus. Tapi, komentar itu sama sekali tidak membantu membuat penonton yakin. Yang juga tidak mengenakkan, profil Miles Teller di Esquire muncul beberapa hari sebelum filmnya rilis, dan di dalamnya, sang aktor tidak digambarkan dengan positif.

Puncak bencananya adalah ketika Josh Trank sendiri menulis tweet bahwa film Fantastic Four versinya tak akan pernah dilihat orang. Tweet ini sudah dihapus, tapi banyak yang sempat mengambil screenshot-nya.

Fox Versus Trank

Setelah begitu banyak kekacauan, Trank akhirnya menyibak misteri kekisruhan pembuatan film ini. Memang ada perubahan dari kisah awal yang dibuatnya, dan versi apapun yang ingin dibuat oleh Trank, tidak akan pernah kita saksikan bentuknya seperti apa. Saat ini, mayoritas penonton menyalahkan Trank atas hancurnya film Fantastic Four. Tapi, apakah ia adalah satu-satunya yang bersalah?

Mantan rekannya di Chronicle, Max Landis, sempat membuat kultwit mengenai Fantastic Four dan Trank. Landis yang mencoba netral membandingkan Chronicle yang murah dan dibuat hampir tanpa intervensi Fox, dengan proyek besar seperti Fantastic Four yang pasti dikelilingi banyak kepentingan.

Terkadang, memang harus ada kompromi besar yang harus diambil dari sisi kreatif saat membuat film. Tapi, hal ini hanya diberikan setelah ada kesempatan besar yang diberikan. Yang paling penting adalah kesiapan untuk bekerja sekuat tenaga. Ia menilai bahwa Trank pada akhirnya tidak mendapat kesempatan ini. Terutama, setelah ia pindah dari satu proyek di mana dirinya diberi kebebasan penuh, ke proyek lain yang penuh pengawasan.

Yang jelas, ada suara kuat dari penonton yang mengatakan bahwa meski Fantastic Four tidak bagus, babak awalnya sebenarnya lumayan. Bagian ini pula yang selamat dari draf buatan Jeremy Slater. Ini mengisyaratkan bahwa, mungkin, di satu titik Trank pernah punya ide yang cukup solid mengenai film ini. Mungkin, Trank menggila di set karena ia tak sanggup menahan tekanan yang dibebankan Fox padanya. Mungkin rumor soal perseteruannya dengan Emma Watts dari bagian produksi Fox ada benarnya.

Detail baru datang dari Collider Movie Talk, di mana John Campea (@johncampea) mengungkapkan bahwa menurut sumber yang dihubunginya, hanya beberapa hari sebelum syuting, Fox memotong tiga adegan aksi besar dari cerita Trank. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa bagian akhir dari cerita Fantastic Four tidak berasal dari cerita yang dibuat oleh sang sutradara dan penulis naskah. Keputusan ekstrem ini berlanjut juga sampai adanya langkah untuk mengambil alih proses penyuntingan dari tangan Trank – rumor yang memang sudah santer terdengar sebelumnya tapi selalu dibantah. Kabarnya, hal seperti ini bukan sesuatu yang aneh di lingkaran produksi Fox.

Hal ini menjelaskan kenapa durasi Fantastic Four begitu singkat. Sebagai catatan, di bulan Januari 2015, Trank mengatakan bahwa first cut dari Fantastic Four adalah 2 jam 10 menit. Ia memperkirakan bahwa durasi akhirnya akan berada di kisaran 2 sampai 2 jam 20 menit. Bandingkan dengan versi saat ini yang durasinya hanya 1 jam 40 menit.

Selain itu, HitFix juga membuat daftar mengenai adegan-adegan dari trailer Fantastic Four yang tidak pernah sampai ke produk finalnya. Apakah ini penyebab terbesar kenapa film karya Trank tidak terlihat utuh dan punya perbedaan yang sangat menyolok antara awal dan pertengahan film dengan bagian akhirnya yang merupakan pesanan studio?

Perdebatan mengenai misteri sejauh mana kegagalan Trank sebagai sutradara karena kurang pengalaman dimulai, dan di mana Fox mulai menyabotase filmnya sendiri dengan merebut Fantastic Four dari sutradaranya mungkin hanya akan jadi debat kusir. Tak ada yang benar-benar tahu kecuali mereka yang terlibat di dalam filmnya. Dan tentu saja, semua punya versi cerita masing-masing yang selalu akan cenderung menguntungkan diri sendiri.

Tapi, satu hal yang pasti, tidak mungkin untuk menyalahkan hanya satu pihak dalam permasalahan sebesar ini. Jelas terlihat ada kelalaian dan kesalahan manajemen dari pihak Fox, yang diperburuk oleh ketidaksiapan Trank sebagai sutradara muda yang minim jam terbang. Dengan supervisi nama-nama senior seperti Kinberg, Vaughn, dan Millar, tidak seharusnya Fantastic Four jatuh sedalam ini. Untuk sebuah karya kolaboratif seharga 122 juta dolar, sepertinya semua pihak punya kontribusi terhadap hasil filmnya yang mengecewakan.

Mungkin, cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan mengembalikan hak Fantastic Four ke Marvel – sebuah permintaan yang bahkan sudah dibuat petisinya. Walaupun rentan salah langkah karena punya semesta film yang sudah sangat besar melalui Marvel Cinematic Universe, setidaknya Marvel Studios memiliki visi jauh ke depan yang dipimpin oleh sosok seperti Kevin Feige. Fox jelas tidak memiliki itu, dan memaksakan untuk membuat Fantastic Four 2 untuk rilis tahun 2017 akan menjadi racun bagi franchise ini. Mungkin, ini saatnya untuk menyerah. Sudah waktunya Fantastic Four pulang ke rumah.