Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Pendekar Tongkat Emas (2014)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 
Critics Rating
 
 
 
 
 


 
Bloggers Rating
 
 
 
 
 


 
Total Score
 
 
 
 
 


 


0
Posted December 14, 2014 by

 
Full Article
 
 

PendekarTongkatEmas-Poster

Critics Rating: ★★★ (4 reviews)
Film Bloggers Rating: ★★★1/4 (13 reviews)

SYNOPSIS

Cempaka, pendekar yang disegani dan dihormati dalam dunia persilatan, adalah pemegang mahasenjata dan jurus mematikan: Tongkat Emas yang kekuatannya tak tertandingi. Cempaka yang mulai menua akan mewariskan senjata dan jurus itu kepada salah satu muridnya.

Pembunuhan dan pengkhianatan terjadi sebelum dunia persilatan mengetahui siapa ahli warisnya. Tongkat Emas jatuh ke tangan yang salah. Kekacauan terjadi. Satu-satunya orang yang dapat mengambil kembali Tongkat Emas adalah Pendekar Naga Putih, bekas pasangan Cempaka, yang telah lama menghilang.Dua murid Cempaka yang tersisihkan dan terkhianati, harus  menemukan Pendekar Naga Putih sebelum terlambat.

 

Cempaka, a respected and venerated warrior in the world of martial arts, is the holder of super weapon and deadly tactics: Golden Cane, which has an unmatched strength. The aging Cempaka will pass her weapon and tactics to one of her students.

Murder and betrayal occur before the martial world know who is the heir. Golden Cane fall into the wrong hands. Chaos ensued. The only person who can take back the Golden Cane is the White Dragon Warrior, former mate of Cempaka, who has long disappeared. Two Cempaka’s students who are excluded and betrayed, must find the White Dragon Warrior before it is too late.

General Information

Director: Ifa Isfansyah
Scriptwriter: Jujur Prananto, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah, Seno Gumira Ajidarma
Cast:  Eva Celia, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Tara Basro, Christine Hakim, Aria Kusumah
Running Time: 112 minutes
Release Date: 18 December 2014

Full Cast and Crew

Not available.

CRITICS REVIEW

HARIS FADLI PASARIBU (Flick Magazine)

Pada akhirnya Pendekar Tongkat Emas memang hanya sebatas konteks tanpa eksekusi yang kuat. Plot sederhana bukan masalah utama. Seting antah-berantah tidak mengapa. Karakter dua dimensi masih bisa dimaklumi. Tapi gagalnya presentasi laga yang dibarengi dinamika yang kuat adalah pengganjal film untuk tampil lebih baik lagi. Secara umum film masih bisa dinikmati. Namun, ibarat tongkat emas itu sendiri, ia cantik dipandang, tapi tak begitu jelas kesaktiannya apa. Mubazir potensi, kalau kata orang. Rating: ★★1/2

REINO EZRA ANRETI (Muvila)

Selain cerita yang solid, penataan laga film ini juga tidak gagal sama sekali. Dedikasi para pemain untuk berlatih bela diri, ditambah ekspresi yang sesuai dengan karakter masing-masing, patut dihargai. Adegan pertarungan pamungkas yang melibatkan Dara dan Elang melawan Biru dan Gerhana, sekalipun minim tampilan darah, menjadi momen puncak yang dapat membayar penantian sejak awal film. Rating: ★★★★

SHANDY GASELLA (Detik)

Sebagai film laga, aksi kelahi di film ini teramat minim, dan muatan drama dalam kisahnya sendiri gagal memikat hati. Mungkin ada baiknya bila keempat penulis skenario film ini (Jujur Prananto, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah, Seno Gumira Ajidarma) bertarung habis-habisan dulu dalam menulis skenario hingga titik darah penghabisan mereka. Siapa tahu, seorang penulis yang menang punya jurus pamungkas yang dapat mencegah keabsurdan “duel tongkat” di pengujung film ini, agar tak terjadi. Rating: ★★1/2

WAYAN DIANANTO (Tabloid Bintang)

PTE melegitimasi Mira Lesmana atau Miles atau Mbak M, atau terserah Anda memanggil anak pendekar jazz Jack Lesmana ini, sebagai salah satu ego terbaik di industri film kita. Ketika ruang gerak menyempit, Mira menciptakan ruang geraknya sendiri. Jangan heran jika satu dua tahun lagi, Mira punya ide liar lagi. Saat itu, kita mungkin bertanya, “Mira mau bikin apa lagi, sih?” Sebelum itu terjawab, akan muncul pertanyaan lanjutan, “Masa iya kita masih perlu meragukan karya Mira?” Rating: ★★★1/2

 

BLOGGERS REVIEW

AMIR SYARIF SIREGAR (Amir at the Movies)

Though the third act seems a bit rushed, there’s no doubt ‘Pendekar Tongkat Emas’ is a masterwork. Thoughtful on every inch of its corners. Rating: ★★★1/2

ATIKAH HANIFATI (Romantic | Superhero)

Pada akhirnya Pendekar Tongkat Emas tetap patut untuk diapresiasi karena mengangkat tema klasik yang sudah jarang di masa yang serba hi-tech saat ini dan totalitasnya dalam setiap detail untuk membangun cerita. Ditambah dengan nilai-nilai moral yang disisipkan sebagai renungan, Pendekar Tongkat Emas adalah film yang mempunyai kualitasnya sendiri, meskipun tidak terlalu menjulang tinggi. Rating: ★★★1/2

CANDRA ADITYA (That Canda Aditya Kid)

Sebagai film berbujet kolosal, Pendekar Tongkat Emas memang nggak menyia-nyiakan resource-nya. Landscape Sumba membuat gue ternganga dan bermimpi apa yang terjadi ketika Terrence Mallick nyampe disana. Luar biasa gawat kerennya dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kamera Gunnar Nimpuno terasa seperti iklan pariwisata saking bagusnya. Dan musiknya Erwin Gutawa bener-bener megah. Tapi sebagai film yang digadang-gadang sebagai film terbaik tahun ini? Maaf, gue dengan berat hati bahwa Pendekar Tongkat Emas masih belum berhasil merebut hati gue. Rating: ★★1/2

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

Sebagai peletak awal kembalinya genre silat klasik di sinema Indonesia, ‘Pendekar Tongkat Emas’ mungkin belum lagi sempurna, namun effort-effort yang ada di dalamnya, dari elemen-elemen plot penuh filosofi wajib dalam genre martial arts ke usaha lebih serius menggelar presentasi aksi yang belum sepenuhnya berhasil hingga trik pemasaran unik dari merchandising, jumlah layar dan promosi besar-besaran mendatangi penontonnya, sungguh layak buat diberi penghargaan lebih.  Rating: ★★★1/2

DIAKSA ADHISTRA (Mokino)

Overall, salah satu film terbaik Indonesia untuk menutup tahun 2014. Film dengan kemasan yang sempurna dengan production, wardrobe, scoring, story, dan script. Wajib ditonton, khususnya untuk kamu yang kangen dengan film silat Indonesia. Get ready and FIGHT! Rating: ★★★★

GALIH PRATAMA (Movienthusiast)

Pendekar Tongkat Emas, adalah hadiah akhir tahun bagi para penggemar silat tanah air, digarap begitu maksimal, dengan set yang eksotis, jajaran cast yang bersinar dan dukungan musik yang apik. Namun kisahnya begitu sederhana, terlalu mudah untuk film semahal ini. Rating: ★★★

JOSEP ALEXANDER (Postingan Biasa)

Kisah anak manusia yg memperebutkan tongkat emas dimana scene action yg harusnya menegangkan tdk memberikan apa2. Rating: ★★

KANIA KISMADI (Ngobrolin Film)

Gue ga bisa bilang film ini bagus banget atau gue suka banget sama film ini — karena memang film ini tidak sempurna — tapi satu hal yang bisa gue bilang adalah bahwa Pendekar Tongkat Emas adalah film keren. Level keren yang lo liat di trailer maupun teaser trailer-nya, akan lo dapatkan dari film lengkapnya. Sumba yang keren, adegan silat yang keren, dan kerja keras para pemain serta semua crew yang tidak kalah kerennya. Mereka mendaki gunung, lewati lembah, hingga ke sungai yang mengalir indah ke samudra. Mereka all in. Mereka total. Rating: NA

RANGGA ADITHIA (Raditherapy)

Kayaknya baru sekali ini, saya keluar bioskop dengan perasaan tidak tenang dan seperti ada yang mengganjal, karena biasanya saya selalu tersenyum puas begitu selesai menonton film-filmnya Ifa Isfansyah. “Pendekar Tongkat Emas” jadi yang pertama sukses membuat saya diselimuti perasaan kecewa, ekspektasi terkubur dan paruh akhir yang harusnya jadi penentu pun tak cukup banyak punya tenaga lagi untuk mengalahkan rasa kecewa saya. Lalu bagaimana dengan aksi laganya, well setidaknya saya terhibur saat film ini mulai menampilkan (lagi) adegan para pendekar yang saling adu jurus. “Pendekar Tongkat Emas” untungnya tidak lupa dengan kodratnya sebagai film silat. Rating: ★★★

RASYID HARRY (Movreak)

Sayang sekali pada akhirnya baik aksi maupun dramanya tidak ada yang berhasil tampil maksimal. Pendekar Tongkat Emas mungkin tidak berhasil memenuhi ekspektasi saya, dimana harapan awal adalah menonton calon film terbaik Indonesia tahun ini. Tapi setidaknya masih ada perasaan terhibur dan senang terhadap munculnya film dengan genre “berbeda” seperti ini. Rating: ★★★1/2

REINO EZRA ANRETI (Ajirenji Mindstream Reviews)

Ceritanya disusun dengan solid dan dituturkan dengan baik. Dengan penyusunan bahasa yang indah tapi nggak sok canggih, film ini menuturkan kisah klasik soal dendam dan perebutan benda sakti dan status terkuat dengan rapi dan jelas untuk diikuti. Akting, koreografi, kostum, dan musiknya bagus. Sayang tata visualnya (artistiknya) tak semegah yang diharapkan, terasa sepi dan kurang believable. Tapi, terlepas dari eksekusinya, film ini tetap berhasil bikin gagasannya gentayangan di benak gw, bikin ingin dibahas terus dan timbul dorongan mau nonton ulang. Itu artinya, film ini punya sesuatu. Rating: ★★★★

TAUFIQUR RIZAL (CineTariz)

Upaya memperkenalkan kembali film silat yang dilakukan oleh Miles melalui ‘Pendekar Tongkat Emas’ tak cukup berhasil. Meski hadir dengan tata produksi yang mengagumkan, sayangnya film dilukai oleh jajaran pemain yang berlakon kurang meyakinkan dan penceritaan lemah tak mengikat. Seandainya Ifa Isfansyah memberi banyak pertarungan seru seperti apa yang mewarnai 15 menit akhir film, hasilnya mungkin akan berbeda. Rating: ★★★

VINCENT JOSE (The Jose Movie Review)

Secara keseluruhan, PTE memang menyajikan sebuah karya yang menghibur dan dipresentasikan dengan cukup baik. Meski harus diakui bukanlah karya terbaik produksi Mirles selama ini. Menarik, namun tidak sampai menjadi sesuatu yang terlampau istimewa. Kendati demikian, effort-nya dalam menawarkan genre yang sudah lama usang dan memperbaiki image film bertemakan silat di ranah film Indonesia patut mendapatkan kredit tersendiri. Kebangkitan genre silat yang sangat layak dan digarap dengan tidak main-main. Itulah mengapa, terutama bagi yang jarang menyaksikan film Indonesia, PTE terasa begitu fresh dan menampilkan sesuatu yang begitu istimewa bagi film Indonesia. Kisah silat yang kental rasa dan nuansa Indonesia-nya, dengan treatment kelas dunia. Rating: ★★★1/2

 

STILLS

 

Last Updated: 7 January 2015


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response


(required)