0
Posted July 22, 2015 by admin in Resource
 
 

Pernyataan Sutradara Film Mencari Hilal (2015)


Dalam film ini, saya sedang bekerja dalam isu yang sama seperti film panjang pertama saya, Menuju Rembulan (Another Trip to the Moon), yaitu mengeksplorasi makna dari kemerdekaan, identitas, kekuasaan politik dalam struktur sosial dan kehidupan pribadi. Kedua film ini menggunakan tatatutur yang sama sekali berkebalikan arah dalam bercerita. Jika maksud dari film pertama saya adalah untuk berdialog dengan diri (personal), maka film kedua dimaksudkan untuk berdialog dengan yang lain (sosial), yang pertama adalah representasi kedirian, yang kedua representasi kemasyarakatan. Dalam satu kata, film pertama saya tentang ketertolakan (rejection), sedang film kedua tentang penerimaan (acceptance). Yang pertama menggunakan pendekatan surealis, yang kedua realis.

Saya adalah seorang Muslim, berdarah Arab dari kakek yang berasal dari Yaman, saya lahir dan besar dalam masyarakat dan tradisi Jawa. Saya telah menghadapi kesulitan dalam mendefinisikan identitas dan terbatasi dalam menyampaikan pendapat pribadi sejak masih kanak-kanak. Indonesia adalah sebuah negara dengan berbagai cara hidup dan agama, kepulauan dengan beragam kebudayaan, sebuah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, namun Anda akan dapat melihat melalui film saya berbagai cara dalam menjalankan dan menjadi Islam di Indonesia.

Urgensi untuk langsung mengerjakan film kedua saya, Mencari Hilal (The Crescent Moon), meningkat cepat adalah dikarenakan apa yang sedang terjadi di dunia Islam dewasa ini. Dalam satu perjalanan ke Rotterdam lalu misalnya, beberapa bulan setelah berita penyerangan brutal di salah satu negara Eropa tersiar, saya mengalami satu hal yang aneh dan tidak mengenakkan di imigrasi bandara. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, saya tahu sebuah sistem dibuat memang untuk menjamin keselamatan warganya, tapi saya dapat melihat dengan jelas bahwa mereka menjadi jauh lebih hati-hati hanya karena wajah saya, karena identitas saya sebagai seorang Muslim-Indonesia. Anda dapat melihat di banyak media luar dan dalam negeri, Islam dilabeli dengan teror. Mereka sampai pada kesimpulan ini karena hadirnya beberapa kelompok ekstrim yang barbar bergerak mengatasnamakan Islam, namun tentu saja tidak dapat mewakili kita semua. Media sampai pada kesimpulan ini karena umat Islam pada umumnya sibuk mendefinisikan siapa diantaranya yang paling pantas menjadi wakil wajah Islam yang sebenarnya, dengan demikian dunia tidak akan pernah tahu bahwa Islam yang penuh cinta, damai dan kepedulian terhadap sesama memang benar-benar ada. Melalui film ini saya ingin menunjukkan pada seluruh penonton di dunia, apa yang sedang terjadi dalam Islam di Indonesia. Lalu kita akan dapat melihat bersama-sama bahwa wajah yang sebenarnya dari Islam bukanlah teror, akan tetapi saling memahami, saling mencintai dan saling menerima terhadap sesama manusia. Kunci utama bagi kita untuk sampai pada pemahaman itu adalah melalui dialog dan toleransi, dan film ini adalah pandangan personal dan kepercayaan saya atas hal itu.

Terima kasih yang sebesarnya saya haturkan pada para produser; Raam Punjabi, Hanung Bramantyo, Putut Widjanarko, Salman Aristo, Haidar Bagir & Denny JA atas kepercayaan yang telah diberikan pada saya untuk bekerja sebagai sutradara dan sepenuhnya diberikan kemerdekaan kreatif dan sejujurnya dapat mengekspresikan pendapat saya sebagai seorang manusia, sebagai orang Islam dan sebagai sutradara dalam film panjang kedua saya ini. Juga kepada rekan-rekan semua di tim produksi, aktor-aktor dari Yogyakarta & Jakarta, yang sudah menemani, bekerja bersama dan percaya pada kekuatan sinema. Secara khusus saya haturkan pula terima kasih yang sebesarnya pada pihak 21 Cineplex dan bioskop-bioskop lain yang mau memberikan kesempatan untuk film ini dirilis publik secara bersama-sama saat libur lebaran.

Film adalah penyelamat saya; saya dapat berkomunikasi dengan lebih baik dan semakin baik dalam mengutarakan pendapat dan pemikiran saya sejak mengenal dan menggunakan medium ini. Selamat menikmati perjalanannya! Mari rayakan keberagaman sinema Indonesia!

Salam,
Ismail Basbeth

MencariHilal-Poster