Indonesian Film Critics

 
Random Article


 
Don't Miss
 

 

Tabula Rasa (2014)

 

 
Overview
 

Genre:
 
Release Date:
 


0
Posted December 12, 2014 by

 
Full Article
 
 

TabulaRasa-Poster

Critics Rating: NA (0 review)
Film Bloggers Rating: ★★★1/2 (3 reviews)

SYNOPSIS

Hans (Jimmy Kobogau), pemuda asal Serui, Papua, bercita-cita menjadi pesepakbola profesional. Namun nasib berkata lain. Pada saat Hans hampir kehilangan semangat hidupnya, ia bertemu dengan Mak (Dewi Irawan), seorang pemilik rumah makan Minang sederhana. Di tengah perbedaan mereka, Hans dan Mak menemukan persamaan. Mimpi dan semangat hidup terbentuk kembali lewat makanan dan masakan.

Hans juga mendapat penolakan dari Parmanto (Yayu Unru), juru masak dan Natsir (Ozzol Ramdan), juru senduak (pelayan). Keadaan menjadi semakin memburuk ketika mereka mendapat saingan sebuah rumah makan baru yang lebih besar persis di depan lapau. Hans, Mak, Natsir dan Parmanto harus menyelesaikan perselisihan di antara mereka untuk menyelamatkan lapau mereka.

 

Hans, a young man from Serui, Papua, has a dream of becoming a professional football player. Yet fate has a different agenda. When Hans almost loses his will to live he meets Mak, owner of a humble Minangnese food stall (lapau). In the midst of their differences, Hans and Mak find their similarities. Dreams and the passion for living are once more ignited in Hans through food and cooking.

Hans also gets rejection from Parmanto (Yayu Unru), the cook, and Natsir (Ozzol Ramdan), the waiter. The situation gets worse when a new larger rival food stall stands exactly in front theirs. Hans, Mak, Natsir, and Parmanto must settle the rift between them to save their food stall.

 

General Information

Director: Adriyanto Dewo
Scriptwriter: Tumpal Tampubolon
Cast: Dewi Irawan, Jimmy Kobogau, Yayu Unru, Ozzol Ramdan
Running Time: 107 minutes
Release Date: 25 September 2014

Full Cast and Crew

Not available.

 

BLOGGERS REVIEW

DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies)

Inilah hal terbaik dalam ‘Tabula Rasa’. Bahwa pada akhirnya, gagasan makanan sebagai sebuah iktikad baik sekaligus elemen utama untuk memuat seluruh pesan dan nilai-nilai penyatuan budaya dari barat ke timur Indonesia, berikut spirit-spirit kerinduan akan kampung halaman yang sama dalam plot-nya, walau tak sepenuhnya sempurna, tetap bisa bekerja membentuk racikan lezat sebagai sebuah tontonan lokal dalam kelas yang berbeda. The cleanest slate of mind called food. Dan yang terpenting, elemen foodporn-nya benar-benar berhasil memancing rasa lapar, membuat kita segera ingin melangkahkan kaki ke lapau nasi padang mencari dendeng batokok lado mudo atau gulai kepala ikan seusai film, bahkan pada penonton awam yang gagal terkoneksi sepenuhnya ke restrained factors termasuk pemilihan ending-nya. Seperti kuliner Minang yang selalu bisa menarik hati, ‘Tabula Rasa’ sudah menjadi pemenang buat sebuah heartfelt foodporn yang menggugah selera. Lamak bana ko ha! Rating: ★★★

ELBERT REYNER (A Cinephile’s Diary)

Overall, di luar kelemahan-kelemahan yang sepertinya tidak bisa dihindari demi memuaskan penonton awam kita, Tabula Rasa tetaplah sebuah suguhan film kuliner yang terasa lezat di lidah, dengan semangat kekeluargaan yang menghangatkan hati, sebagaimana sebuah masakan lezat sejati yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mempengaruhi emosi dan perasaan anda. Rating: ★★★1/2

KANIA KISMADI (Ngobrolin Film)

Ceritanya terlampau sederhana dan tidak memiliki daya tarik. Jika dijabarkan dalam satu kalimat, maka Tabula Rasa adalah film yang bercerita tentang seorang pemain sepakbola gagal yang kemudian bekerja di restoran Padang. Selanjutnya, — walaupun klise – pasti ada pertanyaan di benak penonton, “apakah pada akhirnya ia berhasil mewujudkan mimpinya menjadi sepakbola?” Jawabannya adalah tidak. “Lalu, ceritanya begitu saja?” Hmm.. Ya, kira-kira begitulah.. Rating: NA

REINO EZRA ANRETI (Ajirenji Mindstream Reviews)

Seneng banget memandang film ini di layar, sinematografinya segar dengan komposisi yang asyik, aktingnya keren sampai ke gestur memasak yang sangat lihai, penggunaan unsur kedaerahan yang believable dan teliti–sesimpel ondeh mak oy-nya Padang sampai yombeks-nya Papua =D, tata artistik yang detail sampai ke ulekannya, dan the vintage-esque music yang nyaman sekali didengar. Dan yang paling penting adalah pembawaan dari penuturan (itu istilah apa coba) film ini yang lemah lembut sekaligus playful, dan menggunakan prinsip to-show-not-to-tell dengan rapi dan mudah dimengerti. Contohnya? Well, kita nggak perlu dikasih tahu kenapa pas ketika Hans di Jakarta bukannya berlatih sepak bola malah jadi gelandangan, karena, berbeda dari adegan awal dia masih di Serui, sekarang kakinya sudah pincang. Just like that, and it worked. Rating: ★★★★

 

STILLS

 

BEHIND THE SCENES

Last Updated: 5 January 2015


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response


(required)